Oleh Kons Beo
‘Ternyata hanya sedikit orang kaya yang memiliki harta. Kebanyakan hartalah yang memiliki mereka.’ (Robert G.I)
Itu tak sekedar pidato politik biasa. Prabowo, di penutupan Kongres Nasional PSI di Solo, Minggu 20 Juli 2025, bersuara lurus. Kata-kata Sang Presiden sebenarnya berisi rasa hati penuh gerah. Satu kata kunci yang tersembul itu ‘serakah.’
Itu benar-benar satu sindiran yang teramat tajam. Terkonek pada rawannya alam mental, psike yang rapuh. Semuanya jadi tampak pada sikap dan perilaku tak nyaman pada harta, materi, uang dan kekayaan ini itu.
“Jadi ternyata kita ada fenomena baru. Saya, kita mazhab ini, mazhab itu. Ini ada mazhab baru ekonomi, itu yang saya sebut ‘mazhab serakahnomics’. Begitulah kata Presiden. Yang hendak diseruduk itu adalah ‘perilaku ekonomi segelintir kalangan, yang dinilainya sudah melampaui batas dan tidak pernah kapok untuk mengeruk kekayaan negara.’
Ini gawatnya sekiranya ‘serakah telah jadi gumpalan virus di sarang hati.’ Nurani jadi lumpuh oleh dahsyatnya daya tarik harta kekayaan. Prabowo sudah pada yakin bahwa ‘fenomena serakahnomic itu tidak pernah diajarkan di lembaga pendidikan manapun, dan muncul sebagai praktik ekonomi yang murni digerakkan oleh ‘kerakusan’.
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) punya penjelasan padat makna. Serakah itu kata sifat tentang perangai seseorang yang ‘selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki.’ Serakah itu sepadan artinya dengan ‘loba, tamak, rakus.’ Malah KBBI mencontohkan dalam kalimat: “Meskipun sudah kaya, ia masih juga hendak mengangkangi harta saudaranya.”







