Tentu, ‘serakahnomics’ mesti dipandang sebagai virus maut yang harus diperangi. Tentu, pedagogi-formasi mental pantas ditakhtakan sebagai satu supremasi hati yang bermarwah. Maka, berani untuk ‘menguasai diri dari kelekatan imperium material adalah satu keharusan.’
Betapa dahsyatlah daya rusaknya peringai dan perilaku keserakahan itu. Mahatma Gandhi punya alarm, “Kekayaan bumi ini cukup untuk kebutuhan kita semua, namun tidak akan pernah cukup untuk segelintir orang yang benar-benar serakah.”
Jauh sebelumnya, di padang gurun, Yohanes Pemandi pernah lantang bersuara untuk para serdadu, prajurit “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkan dirimu dengan gajimu”
(Lukas 3:14).
Tetapi, tentu ‘virus keserakahan’ tak hanya menjalar pada rana ‘sekelar pada umumnya.’ Di lintasan agama, arus keserakahan tentu tak luput dari hati kaum agamis dan elitis (pemuka agama). Semangat kumpulkan harta bisa saja menjebak kaum agamis untuk, sampai hati cerdik, ‘membisniskan semua yang beraroma agama demi sebuah tiket pasti tembus masuk surga.’
Mungkinkah Rasul Petrus agaknya khawatir akan para pemimpin jemaat sekiranya mereka itu terjebak dalam keserakahan? Kata Rasul Petrus, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri” (1Petrus 5:2).
Keserakahan akan mamon, uang, itulah yang kekhawatiran Rasul Paulus. Dan ia pun mesti menuliskannya kepada Timotius, “Karena akar dari segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10).







