Itu ibarat peribahasa, ‘sudah gaharu cendana pula. Sudah diberi hati, jantung puh direbut pula.’
Wah, keterlaluan ini, namanya!
Kelirukah Pak Presiden untuk harus bersuara tentang fenomen keserakahan? Pasti tidak! Tertangkap jelas dan nyata di pelupuk mata. ‘Jelas-jelas telah punya banyak harta. Punya gaji yang masuk akal dan bahkan selangit, namun kenapa kah pratik koruptif tetap deras mengalir dan tak samar lagi? Apa yang menjadi kepentingan umum dan demi kebaikan bersama dikakangi dan dikuras demi ‘lumbung hati yang tak pernah puas.’
Sekiranya kata-kata sang Presiden ditafsir bebas (semoga tak liar), ada harapan besar di hati Prabowo agar Indonesia mesti segera bebas dari ‘demokrasi serakah, ekonomi serakah, masyarakat serakah, individu tamak dengan segala konsekwensi perilaku suramnya.
Di setiap suksesi leadership (kepemimpinan) di level manapun dan dalam rana sosial apapun, orang segera berkiblat pada kepentingannya. Kaum serakah – tamak bisa berpikir serius, dan bisa jadi tak nyaman pula, “Akan amankah segala harta kekayaanku? Segala timbunan, aset kepunyaanku bakal juga di titik nyaman? Atau bakal diobok-obok segala riwayat perolehannya yang tak jelas dan penuh samarnya?’
Tak terbantahkan pula bahwa watak keserakahan – ketamakan individu sering jadi sumber petaka jadi longgar dan keroposnya kualitas relasi dalam keluarga (besar). “Sudah jelas-jelas batas tanah garapan warisan, namun hati yang serakah pasti tetap bergejolak untuk _memiliki lebih._ Dan akibatnya terciptalah suasana hati tak baku enak dan lahirlah alam permusuhan dalam keluarga (besar) sendiri. Kasihan ya? Gara-gara ketamakan hati, ikatan persaudaraan akhirnya jadi kering dan gosong.







