Renungan Harian Senin, 11 Agustus 2025

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Bacaan I Ulangan 10: 12-22
Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13.14-15.19-20
Ref: “Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem”

Injil Matius 17: 22-27
“Maka hati para murid itu pun sedih sekali”
Matius 17:23
(Et discipuli contristati sunt vehementer)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kawan ku…
Seperti itulah jalan dan alur hidup itu. Pasang surutnya ternyata mesti dilewati. Ada saatnya sorak sorai jadi milik kita. Namun, ada ketikanya pula saat rasa sesak di dada datang mendera.

Kawan ku…
Kita pasti sama-sama tahu. Impian, harapan dan cita kita pernah jadi terhalang dan mandek. Saat itulah gagal mulai jadi kisah kita. Tetapi, tak selamanya kita mesti seterusnya terkapar letih tanpa daya. Jangan!

Kawan ku…
Saat kata-kata itu diperdengarkan, para murid menjadi teramat sedih. ‘Ke dalam tangan manusia, Anak Manusia bakal berujung pada kisah derita dan kematian’ (cf Mat 17:22). Kematian selalu berarti terputus dan berakhirlah sudah rangkaian kemungkinan kisah yang masih bisa terbuka selanjutnya.

Namun, kawan ku….
Mari kita berandai, bahwa kesedihan yang dialami para murid, bakal akan berubah jadi alam cerah berseri. TUHAN telah pastikan bahwa, “…tetapi pada hari ketiga IA akan dibangkitkan.”

Kawan ku…
Bisa saja aku keliru berat! Namun, aku tetap yakin bahwa hidup itu punya jalan dan iramanya sendiri. Aku bukan penguasa mutlak atas semuanya. Ke dalam tangan TUHAN, karpet kepasrahan mesti dibentangkan dalam iman – harapan – kasih.

Kawan ku…
Sepantasnya kata-kata itu tetaplah jadi isi jiwa kita. “Di bumi yang berputar pasti ada gejolak. Ikuti saja iramanya. Isi dengan rasa.” Rasul Paulus suarakan daya pengharapan, yang mesti jadi kekuatan ziarah hidup. Dan dalam pengharapan tiada terdapat apapun yang mengecewakan (cf Rom 5:5).

Pos terkait