(St Eulogius, Beato Pal Prennushi, Beato Serafim Koda, St Sophronius)
Oleh Pater Kons Beo, SVD
Bacaan I Yesaya 55:10-11
Mazmur Tanggapan Mzm 34:4-5.6-7.16-17.18-19,
Ref: ‘Tuhan melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.’
Injil Matius 6: 7 – 15
“Di dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah” (Orantes autem, nolite multum loqui, sicut ethnici)
Kawan ku…
Ini tentang doa. Semuanya tentang ungkapan seluruh diri kita pada Tuhan. Semuanya termeterai dalam iman dan penyerahan diri.
Kawan ku…
Tuhan tetaplah Tuhan. Agung dan mulialah IA. Tuhan tak butuhkan hadir kita di dalam doa. Tetapi, kitalah yang butuh kehadiran Tuhan. Kitalah yang mesti merindukanNya. Yang mesti pulang ke hadiratNya. Semuanya dalam syukur, dalam ‘sekedar berkisah,’ dalam ungkapan rasa sesal dan tobat, dan dalam ungkapkan harapan hati terdalam.
Kawan ku….
Tuhan tentu tahu segala alur hidup dan gerak-gerik hati, pikiran dan rasa kita. Syarat utama doa untuk kita, kawan ku, adalah ciptakanlah suasana dan kesempatan ‘merindukan Tuhan.’ Marilah memandangNya sebagai Bapa Mahakasih dan Pemurah. Lalu mari kita bersujud sembah, atau dalam keheningan untuk merasakan kehadiranNya.
Kawan ku….
‘Janganlah dibikin heboh menggelegar tentang doa itu.’ Tidak kah di suatu ketika Yesus ingatkan, ‘masuklah dalam kamarmu, dan tutuplah pintu dan berdoalah?’ Allah nan sunyi mesti ditemukan pula dalam hening pribadi yang paling dalam. Janganlah beri kesan bahwa ‘kita tengah berdoa.’
Kawan ku….







