Kuingat, pernah kau menegurku halus namun tajam. Itu karena bahwa aku terdengar boros berkata-kata dalam doa. Doa di pusaran arus berkata-kata yang terlalu berlimpah hingga meluap sana-sini. Katamu, kawan, ini sepertinya aku ingin ‘bikin Tuhan hilang kesempatan dan kesanggupan’ untuk menangkap apa yang aku inginkan dalam doa-doaku.
Kawan ku…
Dari Doa Bapa kami, akhirnya, kita dituntun untuk menempatkan diri kita di hadapan Allah, Kerajaan dan kehendakNya. Dan lagi, bagaimana kita berjuang untuk melihat sesama sungguh sebagai sesama dalam pengampunan. Dalam merajut kembali tali kasih persaudaraan. Yang luputkan kita dari rasa penuh amarah dan dendam.
Kawan ku….
Dalam doa yang benar, kita bakal keluar sebagai pemenang. Tidak karena kekuatan manusiawi kita. Tapi bahwa kita dibenarkan dan dimenangkan oleh Tuhan. Bahwa kita sanggup mengampuni. Itulah keyakinanku sederhana, kawan ku
Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati
Amin







