“Saat sudah sembuh, itu langsung bertepatan dengan wabah COVID-19, jadi saya memutuskan di rumah saja dan mulai tenun. Ini juga bagian dari pertahankan warisan budaya kita,” tutur Yuliana.
Hari berganti hari, Yuliana tak punya penghasilan untuk bisa menambah pendapatan ekonomi keluarganya. Ia akhirnya memutuskan untuk memulai pekerjaan baru dengan tenunan. Sebab, di sekitarannya potensi penghasilan bagi perempuan hanya melalui tenunan.
Saat itu, Yuliana bersama ibunya hanya memiliki modal Rp 150 ribu. Dari modal itu, mereka mulai membeli benang dan sejumlah kebutuhan utama dalam tenunan. Ia bersama ibunya akhirnya berhasil menenun belasan lembar sarung dan selendang.
Hasil tenunan itu, Yuliana menjualnya melalui akun Facebook, Instagram dan TikTok. Walhasil, banyak pesanan dari segala penjuru. Setidaknya setiap hari banyak yang memesan, mulai dari selendang hingga sarung.
“Memang saya melihat potensi yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal saya itu banyak ibu-ibu yang berpenghasilan dari tenunan. Dari situ saya mulai tertarik untuk mengembangkan potensi tenunan,” kata Yuliana.
Seiring berjalannya waktu dan banyak pelanggan, tepatnya pada 6 September 2022, Yuliana memberi nama usahanya, Sotis Adat Etnis NTT (SEAN) yang memiliki arti hadiah dari Tuhan.
Nama usaha SEAN itu akhirnya banyak dikenal oleh sejumlah pelanggan maupun UMKM di NTT. Bahkan beberapa kali Yuliana mengirim sejumlah selendang dan sarung kepada pelanggannya di Merauke, Ambon, Kisar, dan Denpasar.
“Setiap kali pengiriman, itu 50 lembar. Untuk jumlah produksi selendang dan sarung sejak 2019 sekitar sudah 4.000-50.000 lembar,” terang Yuliana.







