Seiring dengan banyaknya permintaan, Yuliana masih kesulitan keuangan untuk membeli benang dan kebutuhan lainnya. Beruntung, dia mendapat tawaran untuk meminjam uang sebesar Rp 4 juta tanpa bunga dari CIMB Niaga.
Uang pinjaman, itu Yuliana hanya pergunakan untuk memperbanyak benang dan kebutuhan utama dalam tenunan. Sehingga setiap bulan bisa memproduksi 50-60 sarung. Sedangkan selendang mencapai 100 lembar. Selain itu, Yuliana bersama ibunya juga menenun selimut.
Yuliana juga akhirnya bisa membangun rumah khusus untuk menenun sekaligus jadi tempat jualan hasil tenunannya. Usahanya terus berkembang, hingga setiap hari banyak pesanan masuk, baik dari luar NTT maupun sejumlah kabupaten di NTT.
“Sebelum saya dapat modal dari CIMB Niaga, itu jumlah produksi tidak terlalu banyak, tapi setelah dapat modal itu yang saya gunakan beli benang. Itu jumlah produksinya lumayan banyak, makanya penghasilannya rata-rata Rp 2-3 jutaan,” sebut Yuliana.
Selain mendapat modal pinjaman, Yuliana juga mendapat pelatihan dari CIMB Niaga terkait bagaimana cara penjualan melalui media sosial. Kemudian pencatatan pemasukan dan pengeluaran keuangan.
“Lumayan berkembang setelah dapat modal dengan cicilan selama 10 bulan. Sampai saat ini sarung dijual dengan harga Rp 1 juta dan selendang berkisar Rp 25-35 ribu per lembar. Tapi tergantung motif tenunannya. Kalau yang motif bunga sepe, itu Rp 35 ribu,” cetus Yuliana.
Community Development Head
CIMB Niaga, Astrid Candrasari (40), mengatakan CIMB Niaga memiliki empat program. Salah satunya adalah UMKM yang merupakan program ekonomi. Sehingga mereka menyasar setiap UMKM di Indonesia timur.







