Natal inkarnatif adalah juga adalah pula satu koreksi serius menyangkut intimitas relasi umat Allah dengan Sabda Allah. Kesaksian hidup yang jelas, tentu bertolak dari keberakaran yang paten pada Sabda Allah. Rasul Paulus berkeyakinan betapa keberakaran pada Sabda Allah adalah dasar hidup dan perutusan seorang murid, “Bagaimana orang mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana orang dapat memberitakanNya, jika tidak diutus?” (Rom 10:14.15). Demikianpun dari cara hidup jemaat perdana telah termaklumi bahwa berkumpul bersama sambil mendengar pemberitaan Sabda Allah salah satu citra dasar komunitas kristiani (Kis 2:42).
Ketiga, natal inkarnatif juga dipahami sebagai kedaulatan komunikasi Allah-manusia. Natal diterima tak sekadar bahwa Allah sungguh menjadi manusia. Tetapi bahwa Allah juga sungguh masuk dalam dinamika peristiwa berbahasa. Oleh bahasa, satu komunikasi dapat dimungkinkan. Dalam peristiwa berbahasa Allah tunjukkan kembali rencana dan kehendakNya. Melalui kisah berbahasa, manusia dapat berelasi, berdialog satu dengan yang lain. Ada harapan mulia di balik kisah berbahasa itu, bahwa manusia dapat terhubung (kembali) sebagai satu keluarga, satu komunitas (persekutuan), satu kelompok masayarakat yang lebih luas.
Natal inkarnatif tampilkan bahasa damai, bahasa sukacita! Dalam bahasa sedemikian itu ada kesejukan komunikasi. Terdapat aura kerekatan rasa kekeluargaan. Bahasa baru dalam ‘Sabda menjadi manusia’ kibarkan suasana ketentraman penuh sapa. Dalam pribadi Sang Firman, segala perbedaan dan warna kemajemukan adalah kekayaan bagi satu persekutuan! Tiada lagi celotehan-celotehan distingtif-separatif-eksklusif: agamis-kafir, saleh-laknat, pribumi-asing, utama-pinggiran, elitis-rongsokan, pilihan-buangan. Di malam Natal ada gema mulia keterjalinan surga dan bumi menyatu sebagaimana diserukan dalam madah malaekat, “kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk 2:14).



