Ajarilah Kami Bahasa CintaMu

natal4

Oleh P. Kons Beo, SVD

Kons beo3 1

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Verbum Caro Factum Est: Sabda Telah Menjadi Daging

Telah kita lewati masa adventus. Di empat pekan masa liturgi itu kita mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Natal. Hari kelahiran Juruselamat. Tetapi pula bahwa dalam spirit adventus kita tetap berziarah dalam harapan demi menantikan kedatangan Yesus Kristus, “Saat Ia datang dalam kemuliaanNya.”

Dalam khazanah rohani, adventus tak sekadar dihayati sebagai satu penantian biasa. Tetapi bahwa adventus selalu memperagakan satu sikap batin penuh harapan akan Dia yang dinantikan. Terdapat kerinduan yang tak terputuskan yang disertai rasa haus akan kehadiran Juruselamat yang sungguh didamba. Karenanya, advenire (datang) amat berkaitan dengan attendere (menanti). itulah sikap atentif yang isyaratkan satu gestikulasi ‘rentangkan tangan ke depan untuk menyongsong, untuk menyambut’! Demi menerima Dia yang pasti akan datang.

natal1

Natal yang dirayakan tentu berangkat dari satu permenungan mendalam tentang Siapakah yang datang itu? Kualitas perayaan Hari Raya Natal amat berkaitan dengan sosok yang dinantikan selama masa adventus. Tentu di hari Natal kita rayakan kelahiran Yesus, sang Juruselamat. Kita rayakan dengan penuh sukacita, dengan segala pernak-pernik penuh ceriah.  Lukisan Natal penuh bahagia dapat kita pahami dalam madah Yesaya, O betapa indah kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan bentara  yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik” (Yes 52:7). Bagi Yerusalem, kehadiran Juruselamat  tak lepas pisah dari alam pembebasan, “Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab Tuhan telah menghibur umatNya. Ia telah menebus Yerusalem” (Yes 52:9).

Pos terkait