Ajarilah Kami Bahasa CintaMu

natal4

Namun, tak dapat ditampik adanya kisah-kisah kesemrawutan dalam berbahasa yang tengah terjadi. Peristiwa berbahasa yang sejuk telah dilumuri berbagai virus maut yang menggeroti. Tersebarnya berbagai hoaks atau informasi palsu yang sungguh kakangi kenyataan (kebenaran); ada pula berbagai ujaran kebencian yang provokatif dan agitatif. Di balik semuanya ada kepentingan dan tujuan sepihak yang hendak diperjuangkan sungguh. Di muaranya, distorsi dialog dan deviasi komunikasi jadi tak terhindarkan. Manusia bisa saling bersikap sebagai musuh jahanam yang pantas dihempaskan. Tangan pun menjadi ringan untuk memegang berbagai senjata maut penuh teror dan kekerasan.

Pada rana paling praktis, ketidaksantunan dalam berbahasa terekspresi pula dalam diksi-diksi yang menusuk serta dinamika suara penuh ejekan serta mempermainkan. Di balik semuanya tentu ada ketidakmatangan dalam emosi; ada pula keangkuhan yang tempatkan diri sendiri di tahta superior di atas sesamanya. Akibatnya, kita merasa berhak sekali untuk menerjang sesama yang ‘bukan kita, yang berbeda, yang tak sesuai kriteria, yang mengusik rasa nyaman dan status quo kita,  dan sesama yang ternilai lemah dan suram dalam hidup.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketika kita rayakan Natal, sejatinya kita terpanggil untuk menata ulang segala kisah berbahasa kita dengan sesama dan bahkan dengan alam semesta. Natal adalah milik kita bersama dalam ketenangan dan damai. Dan semuanya hanya mungkin saat segala pernak-pernik dan asesori natal penuh kegemerlapan itu diubah menjadi buah-buah natal. Mari kita ingat akan apa yang ditulis oleh Rasul Paulus, “Namun, sekarang, buanglah semua itu: kemarahan, kemurkaan, kebencian, fitnah, dan perkataan kotor dari bibirmu” (Kol 3:8).

Pos terkait