Gempa Bumi: di Titik Cahaya Teologi Berada dan Teologi Terlibat

kons beo 1

Kehadiran dan Keterlibatan semua justru menunjukkan dimensi kesalingan dan kebersamaan itu.

Kehadiran klerus, seperti seorang uskup, sebagai gembala,  justru mengarah pada undangan dan ajakan kepada semua.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Yesus, Pemimpin, tak sebatas ‘membasuh kaki para murid. Tetapi Ia juga tiba pada ajakanNya bagi para murid “Kamu pun harus saling membasuh” (Yoh 13:14).

Mujizat pergandaan roti demi orang banyak yang lapar, letih dan lesu, justru berawal dari imperasi kepedulian yang diamanatkan bagi para murid: “Kamu harus memberi mereka makan” (cf Matius 14: 16; Markus 6:37).

Para gembala dan pelayan Gereja tetaplah bersandar pada spirit kenosis Kristus Yesus. Dia yang telah memperlihatkan ‘jalan turun dan merunduk demi keselamatan manusia dan demi citra kemanusiaan (cf Filipi 2: 6). Yesus itulah “Firman yang telah menjelma jadi manusia dan diam di tengah-tengah manusia” (cf Yohanes 1:14).

Jelaslah! Di peristiwa suram gempa bumi ini Gereja Komunio, semua kita bersama, terpanggil untuk ‘saling Ada Bersama dan Terlibat Dalam Kebersamaan.’

Iya, semuanya dalam semangat Yesus  yang  ‘turun, ada bersama dan terlibat dalam riak dan alur kehidupan manusia.’

Bencana alam, gempa bumi ini, bagaimanapun, sepantasnya tetap ditanggap sebagai locus teologicus. Itulah tempat, peristiwa, dan momentum di mana Allah berjumpa dengan umatNya. Saat di mana nilai-nilai Injili temukan harapan dan kekuatannya yang menyata….

Maka…

Ketika kaum klerus, kaum berjubah dan kaum bertudung ‘datang dan hadir di tengah-tengah sesama terdampak akibat bencana, mereka tak hadir sebagai ‘pejabat tinggi, orang besar, kaum elitis Gereja dengan berbagai privilesenya.’ Tidak!

Pos terkait