Idul Adha dan Solidaritas Kemanusiaan

ANSEL ATASOGE2

Secara sosiologis, praktik ini berfungsi sebagai korektif struktural terhadap kesenjangan ekonomi. Ia sekaligus merupakan jalan untuk membangun kohesi sosial berbasis empati, tanggung jawab kolektif, dan pengakuan atas martabat manusia yang setara.

Gagasan Islam moderat (wasathiyyah) menekankan keseimbangan antara dimensi vertikal (ḥabl min Allāh) dan horizontal (ḥabl min al-nās). Nurcholish Madjid dalam beberapa pemikirannya menegaskan bahwa ibadah ritual harus berujung pada kesadaran sosial dan keadilan struktural. Menurut beliau, Islam tidak mengenal dikotomi sakral dan profan. Setiap amal ibadah yang autentik akan melahirkan kepedulian terhadap sesama.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Senada dengan itu, Abdurrahman Wahid menempatkan solidaritas kemanusiaan sebagai inti dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn. Bagi Gus Dur, qurban memiliki makna lebih jauh dari kewajiban fikih. Ia merupakan ekspresi konkret dari empati sosial yang mendekatkan yang mampu dengan yang lemah, sekaligus mengikis stigma kemiskinan sebagai takdir yang tak terubah.

Pandangan ini selaras dengan prinsip maqāshid al-syarī‘ah, khususnya ḥifẓ al-māl (perlindungan harta) dan ḥifẓ al-nafs (perlindungan jiwa) yang diarahkan pada kesejahteraan bersama (maslahah ‘āmmah).

Dalam bingkai pemikiran moderat, Idul Adha harus dibaca sebagai momentum transformasi sosial. Allah yang al-Akbar (Mahabesar) sekaligus al-Qarīb (Mahadekat) mengajarkan bahwa kedekatan spiritual harus termanifestasi dalam kedekatan sosial. Ketika umat Muslim mengurbankan sebagian hartanya, mereka tidak hanya menjalankan sunnah, tetapi juga berpartisipasi dalam sistem ekonomi berbagi yang mengurai kemiskinan dan memperkuat jaring pengaman sosial.

Pos terkait