Di samping dimensi keagamaan, qurban juga menyandang imperatif kemanusiaan yang bersifat universal dan transformatif. Dalam masyarakat yang dihadapkan pada kesenjangan struktural dan krisis empati, mekanisme redistribusi melalui kurban berfungsi sebagai ‘korektif etis’ terhadap akumulasi kekayaan yang timpang, sekaligus menegaskan prinsip kesetaraan dasariah tanpa sekat identitas.
Solidaritas kemanusiaan dalam bingkai ini bukanlah pilihan sekunder. Ia merupakan ‘kewajiban etis’ yang mengikat setiap pihak yang memiliki kelebihan untuk turut mengurai penderitaan sesama. Dengan demikian, semangat berbagi dan kepedulian struktural yang dihidupkan setiap Idul Adha harus menjadi poros peradaban yang inklusif, moderat, dan berkeadilan.
Selamat merayakan Idul Adha. Semoga kesadaran akan kesetaraan, komitmen pada pemberdayaan ekonomi rakyat, dan etika berbagi terus mengalir sebagai napas peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh dan berkelanjutan.
* Penulis pengajar di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta






