Idul Adha dan Solidaritas Kemanusiaan

ANSEL ATASOGE2

Dalam masyarakat yang semakin plural dan kompleks, semangat qurban dapat menjadi model solidaritas lintas identitas, di mana keikhlasan beribadah berpadu dengan kesadaran akan kesetaraan dasariah manusia. Kelebihan kekayaan, dalam perspektif ini, dialihkan dimensinya dari akumulasi pribadi menjadi instrumen pengurai kekurangan sesama, berlandaskan keimanan, ketakwaan, dan etika tanggung jawab sosial.

Idul Adha, melalui kisah Ibrahim dan praktik qurban, menawarkan paradigma iman yang tidak hanya transendental tetapi juga imanen dalam relasi kemanusiaan. Dengan mengadopsi perspektif Islam moderat, perayaan ini dapat dimaknai sebagai gerakan solidaritas yang berlandaskan ketaqwaan, keadilan, dan kasih universal.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam konteks kekinian, revitalisasi makna qurban sebagai instrumen kohesi sosial dan pemberdayaan ekonomi rakyat tidak dapat direduksi hanya sebagai anjuran moral atau praktik ritual yang bersifat personal. Sejatinya, ia merupakan imperatif keagamaan yang berakar kuat pada prinsip maqāshid al-syarī‘ah, khususnya dalam mewujudkan keadilan distributif dan perlindungan martabat sosial. Perspektif Islam moderat menegaskan bahwa ketaatan vertikal kepada Allah harus berbanding lurus dengan tanggung jawab horizontal terhadap sesama.

Dengan itu, setiap pelaksanaan kurban yang autentik mengandung tuntutan teologis untuk mengubah surplus materi menjadi instrumen pemuliaan manusia. Ketika qurban dipahami sebagai kewajiban yang mengikat secara spiritual, pengabaian terhadap dimensi sosialnya bukan hanya mengosongkan esensi ibadah, tetapi juga mengingkari mandat ilahi yang menempatkan kesejahteraan kolektif sebagai parameter ketakwaan yang hakiki.

Pos terkait