Ketika Dialog Menjadi Jembatan: Memaknai Kunjungan Gubernur NTT di Jantung Protes Pocoleok

IMG 20250805 155407

Oleh: Alvino Latu

Sebuah peristiwa penting terjadi di tanah Pocoleok, Manggarai, pada Juli 2025 lalu. Di tengah ketegangan antara rencana pembangunan dan kekhawatiran warga, Gubernur NTT, Emanuel M. Lakalena, melakukan langkah yang tak biasa namun sarat makna. Ia tidak memilih zona nyaman dengan menemui para pendukung, melainkan berjalan langsung ke jantung perlawanan: Kampung Lungar, sebuah basis utama penolakan terhadap proyek geotermal. Keputusan ini lebih dari sekadar kunjungan; ini adalah sebuah pernyataan bahwa dialog adalah jalan utama untuk menjembatani perbedaan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kekuatan Mendengar: Memecah Kebekuan, Mengakui Kecemasan

Selama ini, narasi yang terbangun adalah adanya dua kubu yang berseberangan: warga pro dan warga kontra. Undangan sosialisasi dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) seringkali hanya dihadiri oleh mereka yang telah setuju, sementara suara penolakan bergema di luar forum resmi. Kebuntuan komunikasi ini menciptakan jurang yang semakin dalam, di mana satu pihak merasa diabaikan dan pihak lain merasa niat baiknya disalahpahami.

Langkah Gubernur Melki menerobos kebuntuan ini. Dengan mendatangi Lungar, ia secara efektif mengatakan: “Suara Anda penting. Ketakutan Anda nyata, dan kami datang untuk mendengarnya.” Ini adalah inti dari kekuatan dialog. Dialog sejati bukan dimulai dengan tujuan meyakinkan, tetapi dengan kesediaan untuk mendengarkan.

Kecemasan warga Pocoleok—rasa takut kehilangan kampung halaman, kekhawatiran akan kerusakan lingkungan, dan kegelisahan akan masa depan air serta tanah adat—adalah hal yang sangat manusiawi dan absah. Dialog yang diprakarsai gubernur ini berfungsi sebagai validasi. Ia mengakui bahwa protes warga bukanlah gangguan bagi pembangunan, melainkan bagian krusial dari proses demokrasi yang harus dikelola dengan empati. Negara, melalui pemimpin tertingginya di daerah, hadir bukan untuk memaksakan kehendak, melainkan untuk memahami keresahan rakyatnya.

Pos terkait