Oleh Pater Kons Beo, SVD
“Kita, di negeri ini, hidup dengan politik yang sangat ramai tapi sepele. Tak ada hal-hal mendasar yang dipertarungkan – hal-hal yang mendasar karena menggetarkan hati, pikiran, dan kehidupan hampir semua orang” (Goenawan Mohamad, intelektual-sastrawan)
Kita perlu diingatkan
Ada banyak nasihat yang kerap terdengar. Sering bernuansa awasan. Artinya, demi meredam berbagai gejolak negatif. Dan gejolak itu sering terungkap melalui kata, sikap, tindakan atau perbuatan. Maksudnya, agar seseorang bisa diingatkan. Ini katanya, untuk ‘rem-rem diri.’ Agar, misalnya, tak asal bicara atau pun bertindak semaunya.
Ambil saja kata-kata penuh himbauan telak. “Jangan asal omong. Tak boleh asal bicara. Sepertinya tak jaga perasaan orang lain!” Maksudnya jelas.
Itulah satu tegasan agar ada ketertiban dalam berkata-kata. Sebab tempiaskan kata-kata tanpa peduli situasi dan kondisi psikologis pendengar, sering berakibat fatal.
Menimbang kata dan tindakan
Ungkapkan kata-kata dalam aura kesombongan adalah keterpelesetan dari kecerdasan rohani. Sebab terkadang melalui uraian kata, orang hanya ingin buktikan bahwa ia ‘lebih kritis atau tajam pikiran’ yang mengarah pada, iya itu tadi, keangkuhan rasional.
Ini tak berarti bahwa tak boleh untuk harus berbicara yang benar. Dan bahwa tak boleh ada apa yang disebut correctio fraterna (koreksi persaudaraan). Siapa pun tentu punya sesuatu untuk disampaikan. Semuanya demi membangun kebersamaan yang lebih baik.
Bersyukurlah! Kemajuan dunia ini ditentukan oleh para pejuang kehidupan. Tetapi, tidak kah para pejuang kehidupan itu sungguh diinspirasi oleh kata-kata bertuah dari para bijak dan para pemimpin yang mulia hatinya?
Hidup penuh bijak
Orang-orang bijak gelorakan semangat dengan kata-kata penuh makna. Kata-kata itu teramat jelas terarah untuk membawa siapapun ke satu orientasi dan visi hidup yang menderang.
Orientasi dan visi hidup itu tentu berpautan pada nilai. Dan semuanya itu berkiblat pada citra hidup manusia itu sendiri.
Selain kata-kata, terdapat pula sikap, perbuatan dan tindakan yang sungguh berpengaruh. “Apa yang kusikapi atau kuhayati kini tentu mesti diakarkan pada kisah atau peristiwa sebelumnya.” Dan tentu pula mesti mengarah ke alam masa yang akan datang.
Kisah sepiring nasi
Sebab itulah, satu peristiwa atau sikap tidak diteropong hanya dalam satu dimensi tunggalnya. Tetapi bahwa ia mesti dipandang dalam satu rangkaian peristiwa yang saling berpautan atau berkaitan.
‘Sepiring nasi tidak hanya dilihat melulu sebagai sepiring nasi yang siap disantap lahap.’ Tetapi bahwa ada rangkaian peristiwa yang telah libatkan sekian banyak orang hingga terhidangnya sepiring nasi di atas meja santapan.
Maka, sepiring nasi, yang ditelisik dalam rangkaian peristiwa, akan membentuk sikap atau mental dalam bagaimana harus menikmati hidangan sepiring nasi itu?
Orang tua yang baik pasti ingatkan anak-anaknya untuk ‘tahu menikmatinya dengan penuh rasa syukur dan terimakasih.’ Untuk berterimakasih dan ‘teringat’ hingga kepada para petani yang telah kotor berlumpur dan bersengatan terik matahari di sawah.
Demikian pun bahwa sepiring nasi berdampak pula pada satu sikap batin solider. Katakan sederhananya, semisal adanya alarm orangtua agar anak-anaknya masuk dalam internalisasi kesadaran: “Ambil makan itu ukur-ukurlah! Maksudnya untuk tahu bahwa ada lain yang belum makan. Atau ada sesama yang tak gampang dapatkan rejeki demi hidupnya yang layak.”
Saat sepiring nasi yang ditautkan pada kisah-kisah sebelumnya dalam diri: petani, pedagang, dan orang yang di dapur, serta dikontemplasikan pada sekian banyak sesama yang berkurangan tanpa cukup makanan, maka sepiring nasi itu akan membentuk satu sikap hati dan sikap lahir.
Semuanya dalam ‘kesegalaan, keluasan dan keseluruhan’ yang bertautan
Maka, di situlah isi berpikir, cara bersikap dan bertindak nampak dalam satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Hal seperti inilah yang menunjukkan adanya kecerdasan rohani yang sehat.
Kerohanian yang sehat itu menuntun individu kepada ilham berpikir dan bertindak yang lebih luas dan melebar. Yang tidak melulu terisap pada rawa-rawa ‘aku, kelompokku, dan segala panji-panji kepentinganku (kami).’
Dalam situasi dunia yang semakin kompetitif dan penuh pertarungan, isi berpikir dan cara bertindak yang meluas, melebar serta menyeluruh dalam artian positif mesti hadapi badai tantangan yang tak kecil.
Harus kah kita ‘berpikir akan diri dan kebutuhan sendiri’ atau kah mesti rela ‘ingat, berpikir dan bertindak demi orang lain atau pada hal-hal yang lebih luas dan demi kepentingan umum?’
Kisah selamatkan diri sendiri, amankan kepentingan segelintir, atau bertarung demi visi – ideologi sempit parsial dengan segala aksi teroristik-yang mentorpedo visi dan gagasan umum, semakin menjamur. Dan hal itu berlangsung samar-samar tersembunyi maupun nyata-nyata diungkapkan!
Dalam keseharian?
Kisah sepiring nasi hanyalah satu contoh dari bobot kecerdasan rohani yang dapat ditangkap. Tentu terdapat sekian banyak kisah kehidupan harian yang mendesak siapapun untuk masuk ke dalam alam berpikir dan bertindak holistik dan integral.
Sekian banyak nilai kehidupan tentu akan dihayati sungguh jika siapa pun menangkap pesan dari perbagai peristiwa ‘yang sudah-sudah.’
Katakan, misalnya, seorang mahasiswa akan bertarung untuk selesaikan cita-cita perkuliahannya, jika ia sadar benar akan kisah pengorbanan ‘orang-orang di belakangnya’ demi cita-citanya itu. Maka, di situlah terbiaslah kualitas kecerdasan rohani yang dimiliknya.
Indonesia yang cerdas rohani
Indonesia cerdas rohani tentu tidak diukur semata dari riuhnya selebrasi iman ritualistik. Tidak ditakar hanya atas dasar jumlah madah syukur, pujian, hormat dan sembah sujud kepada Yang Maha Kuasa.
Indonesia cerdas rohani mesti ditelisik juga dari gairah membangun bangsa sungguh atas dasar cita-cita kemerdekaan bangsa. Indonesia adalah narasi historis yang tersambung dan tertenun dari waktu ke waktu, dan dari peristiwa ke peristiwa lainnya. Yang telah melibatkan seluruh tumpah darah bangsa.
Sebab itu Indonesia adalah ‘kekitaan sebagai bangsa’ yang ditangkap, dipahami dan disikapi dalam satu kesatuan yang utuh dan berdaulat. Tanpa adanya hegemoni mayoritas yang berkuasa mutlak. Tanpa adanya minoritas yang ditindas dan diasingkan.
Indonesia cerdas rohani tentu mengedepankan wawasan kebangsaan yang holistik dan integral. Di situlah keanekaan diakui; ke-berbeda-an dihormati. Tetapi, citra persatuan dan kesatuan tetap dijunjung tinggi sebagai kedaulatan bangsa dan negara.
Menjemput kepemimpinan integral holistik: yang cerdas rohani
Di hari-hari ini, iya di jelang tahun politik 2024, Indonesia Raya tengah memasuki momentum discernment nasional. Hal ini berpautan dengan kepemimpinan bangsa dan negara. Spirit bangsa tetap gemakan kehausan akan kepemimpinan yang ‘menyeluruh dan berpautan.’
Dalam konteks inilah, Sabang sampai Merauke rindukan pemimpin yang cerdas rohani. Itulah sosok pemimpin yang sanggup melihat ‘hari kemarin, kini dan esok’ dalam teropong semesta dan menyeluruh. Yang memandang Nusantara sebagai mozaik yang terlukis indah dan mengagumkan dari sekian banyak ‘lempengan atau bagian.’
Kepemimpinan dalam spirit cerdas rohani pasti sanggup melampaui sekian ‘banyak kami di sini dan kamu di sana’ yang sporadis dan eksklusif yang tak sehat. Dan lalu sanggup menuntun semuanya kepada kekitaan yang ceriah. Tanpa pengasingan. Tiada pula penolakan.
Akhirnya…
“Dan bahwa kita semua makan nasi dari hasil padi persawahan luas membentang INDONESIA RAYA tercinta!” Ini tentu bukanlah satu perkara sepele, namun mendasar.
Tidakkah demikian?
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







