Bagaimana dengan bantuan dari partai politik? Fakta bantuan di Flores Timur menarik ditulis. Sebab, dalam beberapa kesempatan, nyaris semua partai politik di republik ini terlibat langsung dalam membantu saudaranya di Flotim dan di beberapa kabupaten/kota di NTT yang terkena badai seroja. Beberapa partai yang terkesan apatis dengan penderitaan rakyat selama ini bahkan yang paling getol mengantarkan bantuan ke wilayah bencana. Baik memang. Namun demikian, dalam beberapa kasus, motif bantuan parpol laik diperiksa.
Diperiksa terutama bukan karena baru kali ini ramai mengunjungi rakyat. Diperiksa terutama karena perilaku beberapa elite parpol di lokasi bencana pada saat memberikan bantuan.
Fakta di lapangan itu menunjukkan tidak semua aktor parpol ikhlas membantu saudara-saudarinya. Dalam satu dua kasus, yang tidak mungkin diterangkan di sini, ada oknum dari partai politik tertentu membisik ke telinga para korban untuk memilih partai C atau D dalam Pemilu atau Pilkada beberapa tahun lagi.
Benar bahwa ajakan itu dilakukan dalam situasi guyon dan lucu. Hanya, membaca konteks pemberian bantuan, terutama karena korban terkena dampak seroja, rasa-rasanya guyonan seperti itu bakal menambah beban para korban ketimbang membantu korban meski diberikan pada saat sulit. Guyonan yang lucu bagaimana pun di tengah penderitaan para korban akan terasa seperti cuka.
Di kasus yang lain pula, beberapa parpol memberikan bantuan dengan embel-embel menulis nama parpol di balik bungkusan setiap bantuan. Sulit dilarang memang. Itu hak masing-masing pemberi bantuan. Hanya, meminjam kitab suci, apakah yang dilakukan tangan kiri boleh diketahui tangan kanan? Apakah motif dasar penulisan nama parpol itu kalau tidak ingin disebut memperkenalkan diri dan berharap masyarakat memilihnya dikemudian hari? Jika kasusnya demikian, itulah yang disebut sebagai bantuan karena kepentingan tertentu.







