Menggiatkan Kekaryaan dan Penegakan HAM: Jeda HUT Partai Golkar

GOLKAR3 5

Adalah suatu kebaikan ketika spirit ini masih mengakar kuat dalam diri kader-kader yang sedang berkiprah hari-hari ini. Rakyat yang membutuhkan perhatian, yang senantiasa mengharapkan keberpihakan pemerintah sampai hari ini, mesti menjadi semacam alarm bagi segenap kader Golkar dalam karya yang responsif-kontinuitis.

Semangat karya tentu menjadi ruh yang khas Golkar. Lantas, karya-karya seperti apa sebenarnya yang menjadi opsi urgen hari ini dan beberapa tahun mendatang dalam program jangka panjang. Tentu materi ini sudah masuk dalam agenda organisatoris kepartaian. Saya tidak merasa cukup sangsi dengan hal demikian. Namun, sebagai warga sipil, tentu anjuran dan masukan menjadi semacam mantra, yang memang tidak jarang  terabaikan, di mana realitas disuarakan melalui medium (partai) yang diharapkan membuka corong lebar-lebar, dan bukan hanya menumpuk aspirasi, melainkan juga dicerna sampai pada jenjang implementatif.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sampai hari ini, dentuman kekerasan kemanusiaan masih menjadi agenda yang belum tuntas. Hak-hak rakyat dieksploitasi, ruang diskursus hampir tergerus kepentingan-kepentingan parsial, fenomena pembungkaman kasus-kasus korupsi yang mengorbankan kepentingan rakyat kecil dan sejumlah bentuk ketidakadilan lainnya, belum menemui titik akhir, malah semakin marak terjadi di rumah yang katanya demokratis ini.

Visualitas kejamnya penguasa hari ini bisa ditafsir melalui aksi penggusuran rumah warga Pupabu-Besipae yang santer baru-baru ini (bdk. BBC News, 20/8/2020). Aparat dan Pemprov NTT sekali lagi menciptakan ketakutan melalui tindakan represif terhadap masyarakat kecil dan begitu tak berdaya di Pubabu-Besipae (bdk. Suara.com, 14/10/2020). Hak-hak minoritas ditindis oleh kepentingan politik-parsial. Sangat disayangkan, penindasan hak-hak kemanusiaan paling nyata ini justru terjadi di wilayah demokrasi kita hari ini.

Pos terkait