Simaklah pula lukisan ini. “Silahkan Andalah yang jadi pemimpin! Namun, Anda tak akan pernah tenang di kediaman resmi. Sebab, di kebisingan jalanan kamilah pemenang dan pengaturnya.” Kira-kira begitulah logika sederhananya. Tampaknya tak ada kalah-menang obyektif yang mengikat. Sebab ia masih disisip-sisip, ya bahkan disumbat mati oleh emosi.
Logika rasional telah diborgol?
Masih merasa seharusnya menang, dan masih tertimbun rasa diakali untuk terpaksa kalah sering masih menebal. Diperam dalam dendam. Maka, di situlah, aksi-reaksi suram berkerayapan. Tanpa jedah. Selalu terulang dan terulang kembali. Pohon akal sehat tumbang. Sepertinya tercabut pula seluruh akarnya. Sebab, kita kini nampak lebih berkiblat pada pohon emosional.
Logika rasional telah diborgol. Dan sudah tersekap pula! Sebab, orang hanya mau ikut emosi. Dan bahkan rela tenggelam dalam lautan emosi pula. Larut dalam ungkapan sebatas rasa. Tidak kah kini, di sana sini, lahirlah badut-badut sebatas rasa? ‘Kebenaran emosional’ dimaklumkan. Yang faktual diremas dan hendak dibikin tak berkutik.
Kebenaran yang tersumbat
Di pengadilan, orang ‘enggan memeluk kebenaran.’ Pun untuk hanya mau mendekati kebenaran, itu serasa telah tersumbat. Penuh rintangan. Sebab saksi kebenaran faktual sudah tersangkar dalam emosi. Penuh takut dalam ketakberdayaan. Namun, itu sebenarnya untuk hanya mempermainkan emosi seisi sidang pengadilan.
Dan lagi, di pengadilan itu, hanya ada pecahan-pecahan mozaik. Yang coba dibongkar pasang sana-sini. Hanya demi satu ‘figura kebenaran’ yang dipaksakan. Benar atau palsu, fakta atau fiksi, kenyataan atau mimpi, serius atau jenaka, pun ‘yang sesungguhnya atau hanyalah setingan,’ semuanya lagi menguji kesanggupan akal sehat. Dalam meterai hati nurani bening.







