Jalan tanjak kebenaran dengan penuh tikungannya
Jika ingin “suci lahir dan di dalam batin,” maka sepatutnya “tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkiran debu setingan yang masih melekat.” Kira-kira begitu harapannya.
Kita lagi sulit berkarib sejati oleh karena kebenaran rasional dan faktual! Sebab kita lagi diayak-ayak oleh kebenaran emosional. Antara mendekat atau menjauh, merangkul mesrah atau melabrak obyek, semua gelagat itu selalu dikomando oleh alam emosi. Itu yang dapat ditangkap dari K.R Scherer dan H.G Wallbot.
Tak ada kepedulian sama sekali pada fakta, jika memang emosi lagi membara. Pakaian kebenaran faktual selalu hendak dicabik. Sebab, yang lebih digandrungi adalah jubah kebenaran emosional. Bila dirujuk pada Henri Frijda, maka alangkah dahsyatnya pengaruh emosi itu. Itulah triumfalisme satu sisi kepribadian yang sungguh berdaya rusak bagi kebenaran itu sendiri.
“Pengaruh emosi dapat menyebabkan kita menghindari dan menolak beberapa orang, membantu dan menerima orang lain, mendominasi atau menyerah pada orang lain, dan menghormati atau mengejek orang lain…., “ tulis psikolog dan profesor dari Universitas Amsterdam itu.
Tesis Henri Frijda itu tentu dapat dipahami mudah. Kita tak akan pernah sanggup tiba pada kebenaran faktual di sana, pada alam orang lain, pada segala yang nota bene bukan atau berbeda dari kita. Sebab kita hanya berbekal pada kebenaran emosional itu. Yang umumnya bising, gelegar, masif serta opresif. Dan yang lebih cilakanya lagi saat ‘kuasa ilahi harus dicatut’ untuk mendogmakan semua ‘kebenaran itu.’







