Ataukah sebenarnya ini semua hanyalah satu ‘reaksi kolektif atas rasa solidaritas negatif’ yang bertali-temali sana-sini? Mengapa tidak? Dan karena itulah, di ruang pengadilan, tetap saja ada ‘baku rabik’ yang mempermainkan emosi, bertele-tele, serta tak sinkron. Fragmentasi episode demi episode berdiri sendiri. Yang sedikit pun tak pernah jelas benang merah penghubung satu dengan yang lainnya.
Racikan para bouwheer elitis?
Dan lagi, semuanya pasti tambah rumit, jika memang ada para pemain inti yang beraksi dari dalam kesenyapan. Bukan tak mungkin bahwa kita tak luput dari para bouwheer (bohir). Selalu saja ada orang yang beraksi sebagai “pemberi tugas, pemilik proyek atau owner.”
Kelompok bohir tak pernah akan mau rugi. Tak mau hancur lebur oleh apa pun yang jadi tandingannya. Demi segala nafsu kepentingan, para bohir selalu ‘rindukan’ kegaduhan, ketidakadilan, situasi khaos, dan teror.
Itulah yang sudah dan tengah dicemaskan hari-hari belakangan ini. Sekiranya ‘group bohir elitis’ sudah dengan murah meriah dan enteng masuk ke ruang pengadilan. Memainkan ‘kebenaran emosional’ untuk menjebak kebenaran faktual. Yang sesungguhnya.
Akhirnya
Renungkan apa yang terjadi hari-hari ini. Di sini, dalam deraian air mata, “kesederhanaan menangisi kebenaran. Agar nanti sungguh jadi miliknya. Tetapi di sana, walau tak jelas dan terbata-bata, kemewahan masih tetap bersiasat demi pembenarannya…. “Itulah hidup, semakin biasa. Seakan tak pedulikan lagi.” Jika memang yang elit tetap ingin terus berpesta pora maka segala cara pun dikerahkan! Entah mau sampai kapan?







