Tak boleh rabun dan berkatarak akan kebenaran
Di hari-hari ini, kita memang tengah dibuat semakin rabun terhadap akal sehat. Satu kenyataan, kebenaran, tetap diupayakan agar terblokir. Dia dibikin tak punya akses jelas dan pasti demi tiba pada keputusan. Dan publik pun hendak dibuat terkecoh. Dibikin panik dan tak tenang. Dan lalu terungkap dalam marah dan makian. Bagaimana tidak?
Lihatlah! Bagunan logic, yang mulai tersusun rapih dalam hukum-hukum rational, sepertinya goyah oleh satu serangan kebenaran emosional. Bukan kah sebuah drama yang dipaksa masuk dalam aula punyanya primat kebenaran, pasti bikin heboh dan juga menggelikan? Kita sekiranya masih berlayang-layangan di atas dan bersama awan-gemawan. Sedikit pun tak hendak berpijak di atas kenyataan sesungguhnya.
Ruang pengadilan jadinya bagai gelanggang pertandingan antara kebenaran versus pembenaran. Selebihnya tidak! Siapapun hanyalah sebatas ‘lebih mendekati atau lebih menjauh dari kebenaran itu.’ Tetapi, repotnya, itu tadi, jika fakta terus saja dicekik oleh satu permainan emosi.
Gelanggang pertandingan penuh ‘riuh namun senyap’
Celakanya lagi andaikan nantinya pengadilan nyata-nyata tak imun dan tak steril dari tendensi pengaturan hasil dari semuanya. Di pengadilan memang yang ada di ujungnya hanyalah ‘atau kalah atau menang.’ Namun, semuanya dalam primat dan kehormatan kebenaran! Tidak karena emosi sana-sini yang menjebak. Pun tidak oleh satu pengaturan.
Bagaimana pun yang juga tetap jadi momok itu tetaplah ‘pemain luaran.’ Apakah satu kematian mengerikan, misalnya, sungguh bertolak dari ‘reaksi emosi singular tak tenkontrol terhadap satu kisah yang sejatinya amat privacy ruangnya?







