Oleh Steph Tupeng Witin
“Tolong dengarkan ini. Sampaikan kepada komandanmu…Mangunwijaya tidak akan tunduk di bawah kata-kata atau perintah Danramil, Dandim atau Gubernur sekalipun. Saya hanya tunduk pada semangat kesetiakawanan sosial dan Pancasila”
Kata-kata ini dilantangkan oleh Romo Y.B. Mangunwijaya pada suatu sore berkabut di bulan Juni 1989 saat puluhan tentara mengepung dan akan mengusirnya dari tanah Kedung Ombo.
Nama “Mangun” menjadi judul novel karya Sergius Susanto yang menarasikan hidup dan perjuangan Romo Mangunwijaya secara sastrawi (Gramedia, 2016).
Novelisasi hidup dan perjuangan Romo Mangunwijaya ini memberikan sebuah perspektif “lain” tentang romantika perjuangan bersama kaum kecil terpinggirkan untuk mengkritik kepongahan kekuasaan di tangan segelintir elite yang haus kuasa tapi miskin isi otak dan nuraninya tergantikan dengan uang. Mangunwijaya sampai mengeluh kepada Umar Kayam, sastrawan dan sahabatnya, “Kenapa sulit sekali menembus hati pejabat kita?”
Mangunwijaya yang berani melakukan “perlawanan” terhadap kekuasaan politik-birokrasi dan melawan arus kemapanan hidup sebagai pastor, telah menjadi ikon perlawanan rakyat kecil di Kali Code. Ia bersama teman-teman mahasiswa dan aktivis menyulap lingkungan Kali Code yang kumuh, kotor dan simbol kehinaan wajah kota menjadi wilayah permukian yang layak dan manusiawi.
Buktinya, karya arsitektur perkampungan Kali Code mendapatkan penghargaan dunia internasional. Salah satu kehebatan orang Indonesia adalah buta terhadap prestasi dan karya luar biasa dari anak bangsa tapi justru dunia internasional yang mengapresiasinya.
Nama Mangunwijaya selalu menggetarkan hati rakyat kecil tapi menggentarkan para penguasa seperti aparat pemerintah, polisi dan tentara. Ketika rakyat kecil diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi, Mangunwijaya pasti hadir, entah baik atau buruk situasinya.
Maka nama Mangunwijaya mejadi momok bagi pemerintah yang selama 32 tahun menjadi robot pembangunan ala Presiden Soeharto. Aparat Negara di bawah presiden sampai ke desa-desa sebetulnya punya hati nurani tapi hasrat kuasa dan nasi sepiring kadang mengaburkannya. Belum lagi ASN yang lulus karena titipan dan pesanan keluarganya yang kebetulan berkuasa. Jadilah aparat negara kita lebih berotot ketimbang berotak. Otak hanya sepotong kecil saja tapi lagaknya melebihi Tuhan. Maka perintah “babe” entah presiden, gubernur atau bupati sama dengan titah Tuhan. Benar atau salah itu urusan penilaian moral. Yang utama ikut saja. Mereka tahu rakyat menderita tapi atas nama kata-kata penguasa, mereka tutup mata.
Membaca Novel Mangun, nurani kita teraduk-aduk dengan berbagai fakta yang dinarasikan dengan gaya sastrawi sehingga gampang menggetarkan dinding nurani. Mangunwijaya tidak pernah menyerah aapalagi takut menghadapi teror dan intimidasi aparat tentara. Ia menyamar sebagai tokoh masyarakat setempat, ia ditangkap dan diinterogasi aparat, perahu drum yang ia desain sebagai perpustakaan keliling yang mengantar buku-buku kepada anak-anak Kedung Ombo dan perahu penyeberangan warga malah dilarang, diamankan dan dirusakkan aparat TNI. Tentara kita masa itu begitu takut dengan advokasi Mangunwijaya sehingga perahu pun ditakuti dan menjadi sasaran kebrutalan.
Maka Mangun memilih hadir di tengah warga dengan cara menyamar. Ia pernah menyembunyikan diri di dalam bak mobil agar terhindar dari pemeriksaan berlapis aparat TNI saat hendak mengunjungi warga Kedung Ombo. Penolakan warga terhadap pengambilalihan tanah oleh pemerintah kala itu dijawab dengan intimidasi, teror dan penyiksaan terhadap warga yang menolak atau melawan kebijakan Soeharto pada masa menjelang keruntuhannya dari kursi kekuasaan.
Aswarun, warga Kedung Ombo yang melawan kemauan pemerintah itu ditangkap di rumah, diinterogasi dan disiksa di depan aparat desanya sendiri. Tapi ada juga Yudas yang sebelumnya bersama-sama dalam kelompok yang kritis melawan arogansi kuasa pemerintah akhirnya berbelok arah dan menjadi tukang kampanye pemerintah dengan menjadi kaya mendadak.
Dalam konteks kita, wajah Yudas itu muncul dalam diri mereka yang pada masa tertentu kritis dengan kekuasaan tapi pada masa kekuasaan berikutnya berubah dalam hitungan usai pelantikan menjadi penasihat kekuasaan. Dulu, alergi rumah jabatan kekuasaan. Sekarang malah merindukannya setiap waktu. “Yudas memang ada di mana-mana walau Yudas yang riil sudah gantung diri. Nilai perjuangan bahkan harga diri musnah saat ditukar dengan uang dan fasilitas lain. Mental Yudas akan terus muncul di bumi ini sebelum dunia kiamat.”
Dalam budaya Jawa, memang dalam setiap lakon wayang pasti ada buto cakilnya. (*)





