Perjumpaan di Gosyen dan Perjumpaan Kita

kons beo7

Oleh P. Kons Beo, SVD

“Kuingin saat ini engkau ada di sini. Tertawa bersamaku seperti dulu lagi. Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah….. Hati ini hanya rindu” (Andmesh Kamaleng, dalam lyrik tembang Hanya Rindu)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 Di Gosyen: Garis Kehilangan dan Kerinduan Itu  Terhubung

Dramatis. Mendebarkan. Dan penuh rasa. Itulah kisah jumpa penuh makna antara Israel (Yakub) dan puteranya, yang ‘telah mati’, Yusuf. Kekeringan dan ancaman kelaparan mendesak Yakub dan segenap anak-anak dan turunannya berhijrah ke Tanah Mesir.

Tak hanya itu. Kata-kata Allah dalam penglihatan di suatu malam terdengar jelas di telinga Yakub, “…tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti” (Kej 46:4).

Maka terjadilah perjumpaan di Gosyen itu. Perjumpaan antara “rasa kehilangan dan gelora hati penuh rindu.” Yakub, yang sekian merasa kehilangan sang putera ingin segera berjumpa anaknya. Semuanya mesti terjadi sebelum ia akhiri ziarah hidup di kefanaan. Dan Yusuf pun penuh rindu ingin bersua yang ayah.

Haruskah Yusuf ditekan rasa penuh rindu? Padahal ia sendiri telah jadi ‘orang di tanah rantau.’ Telah jadi pejabat tinggi di tanah Mesir. Kaya dan berkuasa. Namun, rasa rindu sungguh melampaui dan mengalahkan semuanya. “Rasa diri pejabat dan hidup penuh jaminan” di tanah rantau sedikitpun tak menghapus jejak kerinduan pada ayah, pada kekariban rasa kekeluargaan, pada ‘lebih baik di sini, rumah kita sendiri’, pada suasana ‘ade-kaka’ walau telah lewati banyak kekurangan dan kelemahan.

Rasa hati penuh rindu itulah yang mengentengkan nurani Yusuf untuk tulus mengampuni saudara-saudaranya. Tidakkah di perjumpaan penuh haru dengan para saudaranya, Yusuf lembut memperkenalkan dirinya, “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke tanah Mesir” (Kejadian 45:6).

Dinding Pemisah Mesti Dirubuhkan

Yusuf meruntuhkan dinding pembatas beraroma amarah dan benci para saudaranya dengan sikap penuh pengampunan. Jarak melebar yang semakin menjauh dan mengasingkan itu dilenyapkan Yusuf dengan sapaan, “Marilah mendekat” (Kejadian 45:4). Jumpa Yusuf dan para saudaranya itu jadi awal perjumpaan selanjutnya, ketika pada saatnya Yusuf berjumpa dengan Yakub, sang ayah.

Maka di Gosyen ada tangis nan hangat. Iya, tangisan yang pecahkan ‘gumpalan kerinduan hati Yusuf.’ Alkitab lukiskan, “Yusuf pergi ke Gosyen, mendapatkan ayahnya, Israel. Ketika mendapatkan ayahnya, dipeluknya leher ayahnya dan lama menangis di bahunya” (Kejadian 46:29).

Episode Yusuf, sesungguhnya, adalah pasang surat irama dan suasana kehidupan pribadi yang mesti dialami. Menjadi ‘anak emas pada perlakuan sang ayah Yakub,’ Yusuf beralih pada ‘alam ketidaksukaan dan iri hati pada saudaranya’ yang berbuntut pada dicampakkan ke sumur kering. Dan, oleh skenario Yehuda, Yusuf mesti diasingkan dan dijual ke tangan orang Ismael. Namun, semuanya itu, pada titiknya, berujung pada perjumpaan Gosyen yang sarat makna.

Pasang Surut Alam Pantai Kehidupan

Pasang surut suasana kehidupan bersama, siapapun pasti telah alami. Itulah yang dialami dalam kebersamaan, dalam keluarga, dalam lingkungan, iya dalam tingkatan kebersamaan apapun. Yakinlah bahwa kita pernah atau bahkan ‘masih menjarak’ satu sama lain. Kekariban kita jadi luntur. Rasa kekeluargaaan jadi suram, tak jernih dan kusam.

Ganti aura kasih, kita jadinya terlilit oleh curiga, benci, dendam, atau rasa antipasti-tak suka. Alam tak sehat dan segar hati inlah yang bikin mata air segar dalam diri berubah jadi ‘tak sehat dan keruh.’ Jadinya, tangan kita seperti terbelenggu yang tak sanggupkan kita untuk ‘saling membantu dan berjabatan’ dalam kasih dan citra pengampunan. Mulut kita jadi tertutup untuk ‘hanya’ ucapkan ‘selamat pagi’ dan bercengkerama lepas penuh ceriah. Cuma lidah kita sajalah yang sekian lancar untuk saling fitnah, sindir, saling jual kekurangan dan kelemahan. Kita benar-benar terhimpit oleh beban kebencian yang sungguh-sungguh menekan. Yakinlah, tak pernah ada orang berceriah di wajah ketika beban permusuhan tetap merantai.

Mesti Pulang ke Alam Batin Kita Nan Segar

Namun, betulkah kita ingin tetap merawat rasa penuh amarah, dendam dan benci? Kita pasti gerah dengan jarak yang tetap melebar dengan sesama kita sendiri. Sebab itulah rasa hati ‘aku ingin pulang’ mesti disusun dan ditata. Jumpa kita kembali dengan sesame mesti dirakit dengan kerendahan hati dan kesabaran.

Esau akhirnya mengampuni dan menerima kembali Yakub, adiknya, walau ia merasa panas hati oleh karena haknya dicaplok begitu saja oleh adiknya itu (Kejadian 33). Dan, lihatlah, tidakkah Yusuf sanggup ampuni saudara-saudaranya oleh rasa penuh rindu yang tak tertahankan? Dan Yakub, yang telah senja usia itu, bukankah tak pernah pupus rasa kehilangan akan anaknya yang mesti segera teratasi?

Kita memang tak pernah boleh sirna rasa rindu akan pertalian relasi ade-kaka, akan alam kebersamaan yang sejuk segar, akan rasa kekeluargaan, akan suasana penuh spontan tanpa terlalu banyak ‘rasa was-was’ dan pudarnya rasa serta ungkapan penuh spontan.

Kita pun mesti alami rasa kehilangan yang sehat. Hanya oleh rasa kehilangan sehat itu kita disanggupkan untuk ‘bergerak. Mencari demi menemukan…’ Hanya oleh rasa kehilangan yang sehat kita belajar untuk keluar dari diri kita sendiri untuk mencari kembali ‘yang jauh dan yang diasingkan.’

Alam dunia sering terasa berat dan kejam. Dan kita akhirnya terjebak dalam rawa-rawa ‘tidak urus, emangnya gue pikirin (EGP), emangnya penting (epen). Rasanya tak berlebihan untuk lukiskan bahwa, bahkan angkara murka sering buramkan sinar penuh kerinduan dan rasa kerinduan, “ Persetan kau di situ…” Ketika ketidakpedulian sungguh ‘dirawat dan disembah’ maka cinta dan perhatian alami tantangannya yang tak kecil.

Akhirnya….

Tetapi dalam Tuhan kita tetap dan selalu miliki harapan. Maka, belajarlah dari rasa kehilangan Yakub dan hati penuh rindu Yusuf. Yang berjumpa di Gosyen penuh semerbak mewangi dalam relasi yang terjumpakan kembali. Semuanya karena: hati ini hanya rindu di dalam Tuhan……

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohinwan Katolik,

Jalan Pahlawan – Ende

Pos terkait