Kejatuhan ini menegaskan bahwa keikutsertaan sang bintang di Piala Dunia berakhir. Selain kalah dari timnas Spanyol, alasan lainnya yang mungkin adalah karena faktor usia, melambatnya body moving pada level setinggi Piala Dunia dan sistem yang tidak mendukung kekompakan.
Kejatuhan sang bintang di fase 16 besar ini merupakan akhir perjalanan sebuah karir yang “tidak enak”, dan menyedihkan jika tidak mau menyebutnya tragis. Lalu pensiunkah sang bintang? Jika ya, maka tamatlah riwayat sang bintang dan impiannya mengangkat trofi Piala Dunia untuk negara dan timnya,
Kisah “tidak enak dan sedih” membuka wawasan bahwa mulai fase eliminasi, fase 16 besar, fase 8 besar sampai kepada fase 4 besar adalah laga-laga yang tragis. Fase yang meruntuhkan harapan, membunuh impian, menderaikan air mata, sulit meneduhkan detak jantung bahkan membuat banyak pelatih kepala mengundurkan diri dari karir internasional mereka. Fase-fase ini merupakan ajang pertarungan tidak hanya antar-timnas yang berlaga tetapi juga arena bertarung para pemain -pemain bintang, gengsi negara masing-masing tim, ajang pertontonkan kehebatan dan kecerdasan taktik pelatih, serta sistem persepakbolaan.
Lalu apa yang terjadi di laga 16 besar Fifa World Cup per-tanggal 7/7/2026 (waktu Indonesia)? Beberapa tim debutan bangga bisa sampai di titik ini, namun banyak tim unggulan pulang dengan air mata. Ada beberapa bintang yang kehabisan waktu bermainnya, alias pensiun oleh karena faktor usia. Bagi yang masih sanggup bermain berkesempatan menata asa bersama timnas negaranya untuk mengulangi laga.






