Semua tahu, burung pun tahu, bahwa timnas Portugal “gugur” mengikuti jejak tim-tim tuan rumah penyelenggara Fifa WC 2026; Kanada, Meksiko dan AS. Ikutan lainnya adalah gugur juga pemain bintang dan mereduplah sinarnya. Pada tangal 7 Bulan 7, Tahun 2026, CR-7 dan Portugal membeku-runduk pada additional time: 90+1 menit. Apa mau dikata?
Stadion Dallas, Arlington AS menjadi saksi realitas dimaksud manakala dua tim dari Eropa ini ‘bentrok”. Timnas Spanyol punya banyak pemain hebat tanpa pemain bintang, sedangkan Timnas Portugal punya pemain bintang dan banyak pemain hebat. Kinclongnya pertandingan ini terletak pada hadirnya pemain bintang di lapangan.
Jika pada partai 32 besar -catatan khsusus untuk timnas Portugal- timnas ini bisa angkat kepala karena lolos dramatis ke Fase 16 Besar, dan pemain bintang CR7 mencatatkan namanya pada papan skor sebagai pencetak 1 gol. Kebintangannya bersinar karena telah membantu timnya lolos dan fanatisme para fans serta suporter tampak sangat realistis.
Kemudian tiba giliran menghadapi timnas Spanyol di babak 16 besar (pada laga kemarin), aneka ekspresi emoji mewarnai perangai para suporter, dan para fans terhadap idolanya itu. Mungkin juga terjadi pada pelatih, pemain, dan tidak ketinggalan para “petaruh kecil” di sudut-sudut desa. Sang bintang “jatuh”. CR7 terkulai dalam linangan air mata karena harus “angkat koper”.
Peristiwa “sang bintang jatuh” memudarkan fanatisme dari fans CR-7? Dukungan suporter seperti menentang sesuatu yang berada di “beyond of realistic”. Karena harapan untuk bawa kemenangan dan lolos, realitanya kalah dan kandas. CR-7 hanya punya angka 7 pada nomor punggung konstumnya, sedangkan para bintang lain siap melewati angka 7 dalam berburu gol. Mereka seperti berlomba mengejar gelar individual untuk golden boot.






