Tetapi ada hal menarik yang menggelitik dan memicu pertanyaan lebih jauh, yakni seberapa kuat, seberapa penting variabel partai koalisi pengusung dan pendukung para paslon untuk keberhasilan mereka membangun NTT. Status questionis-nya adalah apa pentingnya koalisi bagi pengejawantahan visi, misi dengan semua program konkrit para paslon bagi kemajuan pembangunan NTT? Sudah tentu, partai koalisi hanya salah satu variabel yang membantu para paslon memperjuangkan program dan agenda pembangunan yang akan dikerjakan.
Kita lihat tiga paslon dengan partai-partai pengusung dan pendukungnya. Paslon Nomor 1 Yohanes Fransiskus Lema-Jane Natalia Suryanto diusung dua partai, yakni PDIP, Hanura dan PBB (Partai Bulan Bintang). Pasangan nomor urut 2 Emanuel Melkiades Laka Lena-Johni Asadoma diusung 11 partai politik : Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP, PSI, Gelora, Perindo, Garuda, PKN dan Prima. Sedangkan paslon Simon Petrus Kamlasi-Andre Garu diusung tiga partai: PKB, Nasdem dan PKS.
Dalam debat perdana itu, ada pertanyaan menggugat yang ditujukan kepada paslon Melki Laka Lena-Johni Asadoma. Bagaimana mengatasi KKN, jika pemerintahan diusung dan didukung koalisi besar. Ada bayangan kecemasan, koalisi besar akan merepotkan Melki-Johni dalam mengelola pemerintahan.
Terhadap pertanyaan bernada cemas itu, Melki Laka Lena merespon dengan tangkas dan terukur. Menurut Wakil Ketua Umum DPP Golkar itu, mengurus NTT tidak bisa kita kerja sendiri. Meminjam jargon Bung Karno, Melki menegaskan membangun NTT butuh gotong royong. Dengan koalisi besar, semangat gotong royong itu bakal sangat mudah digerakkan.







