Yang diminta seorang Presiden Faye, tak perlu fotonya yang dipajang di kantor. Daya perenungannya dalam. ‘Ia bukan Tuhan.’ Ia tak ingin terjebak dalam ikonoklasme murahan. Segenap perangkat di kantor-kantor mesti berdedikasi all out demi pelayanan publik masyarakat. Bersama Sang Presiden, semuanya baktikan diri dan karya demi Bangsa dan Negara. Sekiranya Faye ingin bilang, “Kita semua bekerja sama demi kemajuan Negeri.”
Presiden Faye tak mau ‘wajahnya terpandang.’ Ia tak mau aparatur bekerja hanya di bawah ‘pengawasan wajah Presiden.’ Bisa jadi Sang Presiden ingin kikis aura ‘presiden-sentris.’ Di situ aparatur dipaksa takut serius karena Presiden. Dan karenanya semua mesti ada di jalur demi Presiden dan harus terpusat pada Presiden. Tidak kah ini yang bisa tebalkan gelora ‘Asal Bapa Senang?’ Sementara itu, rakyat – bangsa dan Tanah Air hanya bisa diintip dengan sepotong dan sebelah mata!
Kiranya Faye tak ingin pula bakal terlahir sekian banyak pencinta, pembela, penyembah atau pun, kasarnya, penjilat dirinya sebagai Presiden ketimbang semesti lahirlah lebih banyak pejuang dan orang-orang yang tetap miliki hati nurani demi rakyat, bangsa dan negeri Senegal tercinta.
Mari lanjut! Saat kata-kata Faye terarah bahwa ‘sepantasnya dipanjangkanlah foto anak-anakmu di kantor,’ Sang Presiden nampaknya menuntun segenap aparatur dalam perenungan kontemplatif demi mengabdi bangsa. Agar, bagai anak-anak, para abdi bangsa dan negara ini bertaruh hidup dan kerja penuh sukacita. Demi masa depan negeri yang masih miliki cita-cita lebih besar. ‘Anak-anak adalah kisah dan cita hidup masa depan yang mesti dipintal dan ditenun penuh tanggungjawab sedari awal di hari ini dan saat kini.’







