Siapa pun anak bangsa dan putra-putri negeri tentu tak ingin tiba akhirnya nanti pada suasana dan keadaan mencekam, dan menakutkan. Yang terlukis sebagai suasana penuh ‘ratapan dan kertak gigi.’
Faye hanya ingin katakan, sekiranya foto anak-anak sendiri yang dipanjang itu adalah tanda Kasih. Bahwa hidup dan pengabdian di kantor mesti jadi ungkapan nyata Kasih yang tulus, sehat, benar dan sewajarnya serta seharusnya bagi anak-anak serta keluarga!
Dan, mari beralih ke Puasa kita. Sekiranya, seperti Faye, Yesus Tuhan kita memohon setiap kita untuk tidak menaruh apapun gambarNya, Salib dan semua atribut sakral lainnya. Sejenak disingkirkan semuanya dari ruang-ruang hadir kita dan bahkan dari dalam hati kita.
Sebaliknya ditaruhlah foto-foto ‘kaum yang lapar, haus, orang asing, yang telanjang, yang sakit, dan kaum tahanan’ (cf Matius 25: 31 – 46). Sekiranya Yesus meminta kita untuk tempatkan foto-foto korban kekerasan, kaum penjelajah tanpa arah akibat perang dan pertikaian. Sekiranya dipanjangkanlah foto-foto kaum penuh dukalara dan air mata karena diabaikan, karena ketakpedulian, karena ditinggalkan untuk sebuah kembali yang tak mungkin.
Di Masa Puasa ini, akan kah aku bilang pada semesta ‘aku tidak bersalah dan tidak bertanggungjawab atas semua kegetiran ini?’ Atau kah sebisanya ‘aku bertarung bagai Simon orang Kirene itu, atau biarlah cuma sebatas menyapu wajah penuh derita bagai si Veronika yang berbuat sebisanya?’
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, Rohaniwan Katolik ., tinggal di ollegio San Pietro – Roma







