Oleh Pater Kons Beo SVD
Kawan ku…
Kuingin bilang padamu. Kau memang diarahkan untuk jadi dirimu yang utuh. Yang tak terbagi. Kokoh dalam apapun situasi hidup yang kau alami. Iya ‘menjadi diri sendiri,’ itulah yang jadi harapan dalam dirimu.
Tetapi, tidakkah kau hidup di antara dan di tengah-tengah sekian banyak sesama? Dan setiap orang itu pada kenyataannya punya sikap dan penilaiannya tersendiri terhadapmu. Bisa terjadi, dikau adalah pribadi yang terasa kokoh untuk dirimu sendiri, namun variatif dalam penilaian sesama tentangmu sering tak terhindarkan.
Kawan ku….
Di hadapan orang-orang tertentu kau ternilai manis, lembut, serta menawan. Namun, ada yang melihatmu sebenarnya sosok pendedam serta penuh irihatinya. Pun hal yang sama bisa berlaku pada pribadi lainnya pada alur sebaliknya.
Kawan ku….
Kita bisa saja jalani hidup dan hayati keseharian hanya atas dasar ‘apa kata orang.’ Sebab itulah, kita bisa menjadi tawanan dari ‘penjara apa kata orang.’ Dan kita jadinya sulit untuk hidup atas dasar keyakinan pribadi dan kemerdekaan iman yang teguh.
Kawan ku….
Kau pasti tahu betapa sekian banyak orang berjuang untuk dicitrakan. Untuk diberi label berkualitas awan gemawan, serta terus memuncak setinggi gunung. Tinggi, tinggi sekali.
Tetapi untuk kita berdua? Biarlah kita hadapi kenyataan bahwa kita memanglah merayap dan tertati-tati dalam hidup.
Kawan ku…
Sekiranya ‘ada yang mengatakan kau adalah seorang yang saleh, ingatlah kau pun pernah merayap dalam alam kabut senja kehidupan.’
Jika ‘ada yang mengatakan kau kini adalah orang yang maju dan berkembang serta banyak apa-apanya, maka ingatlah selalu bahwa kau pernah merayap dari titik zero, dan bertolak dari nyaris tanpa apa-apanya!







