Oleh Pater Kons Beo SVD
Kawan ku…
Kau ingatkanku tentangĀ adanya ‘titik batas kepuasan hati kita.’ Semuanya tentang apa-apa saja yang kita butuhkan.
Ku tahu kawan….
Sebenarnya kau memaksaku demi satu kesadaran bahwa ‘yang ini atau itu sudah cukup. Iya, sudah pas buatku. Bahwa aku sudah sampai di titik kenyang penuh kepuasan.’ Ini kah yang disebut ‘spiritualitas kecukupan?’
Kawan ku….
Kau menuntunku untuk berani keluar dari ‘lumbung dan dapurku serta dari semua titik penyimpanan perbendaharaanku.’ Semuanya hanya agar aku punya hati yang bermarwah solider.
Kawan ku….
Memanglah ungkapan hati Tuhan sungguh mendalam serentak menantang. “Aku tak sampai hati menyuruh orang banyak ini pulang dengan lapar, sebab pastilah mereka rebah tak berdaya di jalan” (cf Mrk 8:3).
Kawan ku …..
Kutangkap maksudmu selanjutnya. Potongan-potongan roti yang terkumpul pada akhirnya di kisah itu sebenarnya bercerita tentang ‘sekian banyak orang yang sungguh membutuhkan. Yang harapkan keadaan hidup yang layak…
Dan juga kawan ku…
Seperti perenunganmu, aku pun yakin bahwa ‘potongan-potongan roti itu’ adalah juga cerita hati kita yang berbagi. Itulah alunan hati kita berbelarasa. Kita tak ingin ‘puas dan kenyang sendiri’ dan lalu sekian tega untuk masih berselera terus mengumpul dan menimbun demi kenyamanan diri sendiri.
Ah, terlalu…..
Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati
Amin






