Oleh Pater John Naben, SVD
Hidup manusia sering dibayangi oleh kerinduan untuk mengejar kebahagiaan. Dan kebahagiaan menurut ukuran dunia sering dikatakan demikian:
Kebahagiaan adalah mengumpulkan barang sebanyak-banyaknya. Semakin banyak barang yang dikumpulkan, orang semakin merasa sangat bahagia. Kebahagiaan adalah menghasilkan sesuatu. Semakin banyak barang yang dihasilkan, semakin banyak pula hasil yang diperoleh. Kebahagiaan adalah ketenangan pikiran. Kalau pikiran anda tidak dirisaukan oleh berbagai macam masalah, itulah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah pemilikan dan pemakaian alat-alat komunikasi masa kini. Kalau anda punya televisi, radio, tape recorder, Polytron music, punya handphone yang ber-merk, itulah kebahagiaan.
Tetapi apakah benar bahwa beberapa hal di atas atau yang disebutkan tadi membahagiakan seseorang? Mungkin sulit untuk mengatakan ‘tidak’. Sebab memang itulah kebahagiaan menurut ukuran manusia. Tetapi tanyakanlah kepada mereka yang hidup serba cukup, yang tidak punya kekurangan apa-apa. Apakah mereka merasa puas, yang mendatangkan kebahagiaan. Mungkin setiap hari mereka disibukkan oleh berbagai macam pemikiran yang mencemaskan, bagaimana mengelolah dan mengatur harta milik yang ada. Dan bukan tidak mungkin bahwa hal semacam ini akan menimbulkan kecemasan. Dan kita tahu, kecemacam itu bukan kebahagiaan. Karena kebahagiaan ada di hati dan bukan pada barang-barang duniawi.
Dengan nada yang cukup keras, Nabi Yeremia menegaskan: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, yang hatinya menjauh dari Tuhan’ (Cf. Yer. 15:5). Dengan nada yang sama, Yesus mengatakan kepada orang-orang yang hidup dalam kecukupan, ‘Celakalah!’; Celakalah kamu yang kaya…., Celakalah kamu yang kenyang…, celakalah kamu yang tertawa…., celakalah kamu, jika semua orang memuji… (Cf. Luk. 6:24-26)







