Apakah Engkau Bahagia?

JOHN NABEN1

Lalu, kita boleh bertanya, apa sebab kebahagiaan tidak dapat dimiliki oleh manusia secara tetap? Salah satu sebab ialah bahwa manusia akan merasa bosan, cepat atau lambat. Apabila pemenuhan kebutuhan itu berulang kali terjadi, maka manusia akan merasa biasa, rasa tidak menarik lagi; lalu perlu diganti dengan yang baru, untuk mencari dan menemukan kebahagiaan yang baru pula.

Cepat bosan yang ada pada manusia ini, sudah dapat dilihat sejak masa kecil. Berikanlah kepada seorang anak satu alat permainan. Saat awal, ia akan sungguh menikmatinya. Sesudah satu jam, mungkin alat permainan itu sudah tidak menarik lagi baginya, atau sudah rusak karena membosankan dan mungkin tidak dipedulikan lagi. Demikian juga dengan manusia dewasa. Sebuah baju, yang sudah sering dipakai, ingin cepat diganti. Perasaan senang dengan sesuatu yang baru, perlahan akan lenyap juga.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sebab itu, manusia tidak dapat memiliki ‘kebahagiaan yang bersifat tetap’. Manusia akan merasa bosan, dengan sesuatu yang tidak baru lagi, lalu berusaha serta berkeinginan untuk menggantikannya dengan sesuatu yang baru lagi. Kalau orang tidak lagi sembahyang pada Hari Minggu, itu juga merupakan satu gejala orang tidak lagi merasa bahagia dengan hidup yang ada. Maka, sebenarnya tidak ada barang jasmani apapun yang memberi kebahagiaan secara penuh. Semakin dicari, semakin ingin mendapat lebih banyak lagi, sampai lupa bahwa Hari Minggu adalah HARINYA TUHAN.

Lalu,  di manakah letak kebahagiaan itu? Jawabannya hanya ada pada Yesus dan ajaranNya, karena dunia tidak lagi mampu menjamin suatu kebahagiaan yang bersifat tetap. Tetapi jawaban Yesus akan membuat manusia tidak mengerti dan bertanya-tanya. Berbahagialah kamu yang miskin, yang lapar, yang menangis, yang dibenci bahkan yang ditolak. Sebaliknya Yesus menantang orang yang kaya, yang kenyang, yang tertawa dan yang dipuji dengan kata, CELAKA.

Pos terkait