Oleh Robert Bala
Meletusnya Gunung Lewotobi laki-laki sejak 23/12/2023 telah meninggalkan duka mendalam. Aneka cara digunakan untuk (kalau bisa) melerai ‘amukan’ ‘si Lewotobi laki-laki’. Semua mata menengadah ke langit (kerap dengan tatapan kosong). Malah kerap, meski doa semakin ditingkatkan intensitas, bencana malah makin menjadi-jadi.
Tak cukup doa dari jauh. Toko adat dari Nurabelen mendekati gunung dengan jarak hanya 30m dari lava yang tengah mengganas , 16 Januari 2024 (Kompas 17/1/2024). Dengan sesajen: anak kambing jantan, beras yang diolah dengan cara ditumbuk, tembakau, dan minuman yang disuling dari air lontar atau kelapa, mereka berharap agar ‘emosi gunung’ itu meredah.
Yang jadi pertanyaan: apakah sesajen itu bisa melerai amukan Gunung Lewotobi? Atau, apakah bila setelah seremoni terjadi tetapi letusan tidak berkurang malah kian menjadi-jadi, apakah itu pratanda bahwa sesajen itu masih belum sempurna? Atau, apakah bila setelah 3 minggu meletus dan diadakan seremoni dan letusan itu berakhir, apakah itu terjadi karena doa dan seremoni?
Pertanyaan ini tidak bermaksud meremehkan tidak saja ritual adat tetapi juga doa-doa tulus. Malah pertanyaan ini bila diletakkan secara tepat dapat menjernihkan iman oleh karena pandangan yang dewasa dan bijak.
Otonomi Ciptaan
Pertanyaan cukup problematis ini tentu tidak mudah dijawab. Tetapi jawaban ini bisa dicari pada kemahabijaksananya Sang Pencipta yang memberi otonomi pada ciptaan, saat menciptakan bumi dan segala isinya (termasuk manusia di dalamnya).






