Ritual Adat Bisa Lerai Lewotobi?

robert bala2

Cara berpikir seperti ini memang tidak mudah dipahami manusia. Ketika membuat (atau menciptakan) sesuatu, manusia selalu memiliki pengaruh pada ciptaan atau buatan tangannya. Apa yang dihasilkan tidak ingin hilang begitu saja. Karenanya selalu ada dalam jangkauan dan genggaman ‘si pembuat’ atau ‘penciptanya’.

Hak paten sebagai pengakuan akan karya cipta /hak paten bisa membantu pemahaman  kita.  Selain mendorong inovasi, juga hak paten diterbitkan karena memiliki keuntungan ekonomis bagi pencipta. Karenanya ia tidak akan dilepaskan begitu saja.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Logika seperti ini berbeda dengan Tuhan, Sang Pencipta. Sekali Dia mencipta, Dia memberikan otonomi dan tidak dikuasai lagi. Alam lalu bergerak sesuai hukum alamnya. Dengan demikian ketika ada ‘amukan’ alam (seperti gunung meletus), maka ia tidak bisa ditafsir sebagai hukuman dari Tuhan. Itu terjadi karena alam sendiri yang bisa disebabkan oleh perbuatan manusia atau pada sisi lain oleh umur alam ciptaan yang selalu mengikuti hukum alam. Ia ada dan akan disebut pernah ada karena telah hilang waktunya.

Mengapa otonomi ciptaan perlu dipahami dan bencana dianggap sebagai konsekuensi dari otonomi alam?  Karena wajar saja. Bagaimana mungkin, Tuhan (lera wulan tanah ekan) yang begitu indah diciptakanNya, diporak-porandakan sendiri oleh Sang PenciptaNya? Apakah masuk akal ketika Tuhan begitu ‘marah’ sehingga Dia menghanguskan ciptaanNya sendiri?

Pertanyaan ini mengingatkan kita akan wafatnya Mbah Maridjan. Penjaga Gunung Merapi yang wafat terpanggang pada 26/10/2010. Mengapa bisa terjadi? Karena ia (dan media yang terlampau menjadikannya sakti) menganggap alam masih ‘dikontrol’ oleh sesajen. Penjelasan ini hanya mau menyadarkan bahwa ciptaan memiliki otonomi. Dengan demikian ritual dengan keyakinan setangguh apapun tidak akan melerai bencana karena keduanya tidak ada dalam hubungan saling terkait.

Pos terkait