Kreasi Penyintas Lewotobi

IMG 20250924 WA0013

Hampir setahun hidup di pengungsian jauh dari rumah dan kampung halaman, dapat saja memicu kebosanan serta stres. Bosan dengan ruang hidup yang sempit dan berdesakan. Bosan karena kebiasaan-kebiasaan dan rutinitas hidup sulit terekspresikan di pengungsian. Juga bosan menanti hunian sementara yang masih sedang diproses pemerintah.

Inilah yang teramati oleh Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), salah satu non government organisation (NGO) yang bekerja di Kabupaten Flores Timur termasuk di wilayah terdampak bencana erupsi gunung api Lewotobi laki-laki bermitra dengan Chatolic Relief Services (CRS).

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kekhawatiran ini jadi salah satu tema diskusi mingguan di bulan September tentang apa yang mesti dilakukan untuk para penyintas erupsi Lewotobi. Sebab erupsi salah satu gunung api ini masih terus berulang sejak erupsi bulan Desember 2023 silam.

Diskusi internal ini memutuskan untuk memperkuat kapasitas komunitas desa untuk penanggulangan bencana, komunitas keuangan SILC (saving internal lending community) dan livelihood yang telah diorganisasi sejak Januari 2024 silam dengan kapasitas tambahan livelihood.

Analisis cepat YPPS memutuskan untuk melakukan penguatan kapasitas para penyintas agar kreatif menghindari kebosanan dan stress dengan kegiatan-kegiatan berdaya, yakni pengolahan aneka pangan lokal untuk menghasilkan aneka product bernilai. Pangan lokal menjadi alat pemberdayaan serta sosialisasi diri para penyintas ke ruang publik.

IMG 20250920 WA0016 1

Melatih Pengolahan Pangan Lokal

Sebuah mini workshop di YPPS digelar bulan September. Potensi-potensi pangan lokalyang ada di komunitas para penyintas dipetakan dan dianalisis. Ditemukan bahwa walau berada di pengungsian mereka memiliki sumberdaya yang bisa dioptimalkan. Ada aneka pangan lokal. Juga keterampilan dasar mengolahnya. Yang dibutuhkan adalah sentuhan pemberdayaan.

Pos terkait