Kreasi Penyintas Lewotobi

IMG 20250924 WA0013

Analisis sumberdaya pangan lokal menemukan bahwa desa-desa terdampak erupsi memiliki kekayaan pangan lokal produksi para petani yang tersebar di sabuk Ile Lewotobi. Saat ini mereka mendiami hunian sementara di bantaran kali Konga dan kamp pengungsi di desa Kobasoma dan Bokang Wolomatang sebagai pengungsi. Mereka berasal dari desa Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya dan sebagian desa Boru.

Para fasilitator perubahan dari YPPS merekam dan mempresentasikan potensi-potensi itu dalam mini workshop tersebut. Novia Taby, fasilitator perubahan desa Dulipali. Remon Werang, fasilitator perubahan desa Boru. Ester Narek fasilitator perubahan desa Hokeng Jaya dan Theresia Open fasilitator perubahan desa Nobo.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Produk pangan lokal dari desa-desa ini yang masih tersisa dan bisa diakses seperti singkong, aneka ubi dan talas, aneka pisang terutama pisang kapok, ikan, kacang tanah dan kacang-kacangan, kelapa dan asam.

Selain hasil pertanian, desa-desa ini juga menyimpan sumberdaya manusia. Sejumlah warga punya bakat dan ketertarikan mengolah aneka pangan lokal menjadi produk yang memberi nilai tambah.

Berdasarkan peta potensi ini, Karolus Kaya Ola dan Vensiana Jedo Hurit selaku wakil penanggungjawab program CORRECT kerja sama YPPS dan CRS merencanakan latihan pengolahan pangan lokal, bertempat di lokasi pengungsian dan hunian sementara.

Promosi ke Kota

Latihan yang berlangsung di lokasi pengungsian selama beberapa hari di awal bulan September 2025 menghasilkan aneka olahan pangan lokal.

Theresia Open, salah satu Fasilitator Perubahan menyampaikan bahwa para penyintas dari desa nobo dalam latihan itu menghasilkan keripik pisang, kerupuk singkong, stick singkong, manisan buah bidara dan kacang telor.

Pos terkait