Kreasi Penyintas Lewotobi

IMG 20250924 WA0013

Pastor paroki Weri kesempatan itu masih dengan busana jubah putih sangat antusias berkunjung dari meja ke meja, berdialog, menyapa dan meneguhkan mereka. Sejak dari mimbar gereja jelang berakhirnya misa minggu itu, pastor yang juga Delsos Keuskupan Larantuka itu mengumumkan kepada umat untuk mengunjungi dan menyapa sama saudara umat paroki Ratu Semesta Alam Hokeng yang hari itu hadir dan mempromosikan karya mereka.

Kepada umat paroki, ia mendorong agar mendukung dan berbelarasa dengan para penyintas. Membeli produk karya mereka dengan ketulusan hati adalah ungkapan kemanusian kita.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Menurutnya, para penyintas sering disebut kelompok rentan, kelompok yang mesti didukung agar berdaya. “Membeli produk yang mereka tawarkan adalah bentuk dukungan pemberdayaan,” katanya.

Menurutnya, bantuan lain yang diberikan berbagai pihak dan penyintas menerimanya, itu hal baik. Tetapi lebih berdaya adalah mendukung upaya-upaya kreatif yang mereka hasilkan. Dengan membeli produk mereka kita tidak menempatkan mereka sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai penyedia jasa.

“Menghargai hasil karya mereka itu jauh lebih tinggi dukungannya ketimbang memberi bantuan seperti lazimnya,” tegasnya.

Menurutnya, membeli hasil karya para penyintas bencana adalah bentuk pemberdayaan, dukungan kemanusiaan dan wujud option for the poor yang lebih bernilai.

Imelda Sofia, penyintas asal desa Nobo sangat berterima kasih atas model pemberdayaan seperti ini.

Menurutnya, hal yang tidak pernah diduga adalah mereka difasilitasi untuk memproduksi pangan olahan, lalu memfasilitasi basar di kota sehingga mereka bisa bertemu dengan bupati, romo paroki Weri dan warga kota Larantuka.

Pos terkait