“Dari semua produk ini, keripik pisang yang terlaris saat dijual,” kata Theresia.
Fasilitator lainnya dari desa Hokeng Jaya Ester Narek menuturkan bahwa produk yang dihasilkan terdiri dari kripik pisang, kripik talas, kacang telur, kue delapan.
Demikian halnya para penyintas dari desa Boru dan Dulipali yang disampaikan Novia Taby dan Remon Werang sebagai fasilitator.
Rata-rata produk pangan olahan hampir sama untuk semua desa. Hal ini karena semua desa memiliki potensi bahan baku yang sama. YPPS juga memfasilitasi penguatan kapasitas ini berbasis sumberdaya lokal desa. Keyakinan bahwa walau terdampak erupsi dan bahkan ada yang kehilangan tempat tinggal namun tidak semua asset penghidupan hancur total.
Untuk promosi dan pemasaran, YPPS membangun kerja sama dengan masyarakat kota dan memfasilitasi kehadiran para penyintas ke kota. Sabtu dan minggu (20 dan 21 september), berlangsung promosi dan penjualan di kota Larantuka.
Bertepatan dengan sebuah acara di kelurahan Balela, Larantuka (20/09), para penyintas mempromosikan produk mereka di tempat itu. Mereka mendapat apresiasi dari Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen. Bupati membeli semua ikan kering yang dipromosikan saat itu dan membagikan kembali kepada para penyintas untuk konsumsi di keluarga-keluarga.
Di hari berikutnya, Minggu (21/09), pastor paroki St. Maria Weri RD. Felix Hurint memberi kesempatan kepada para penyintas untuk mempromosikan karya mereka di arena gereja paroki itu usai misa. Umat paroki Weri sangat bersimpati dan membeli aneka produk olahan pangan lokal milik para penyintas erupsi gunung api Lewotobi.







