Pemahaman seperti ini tentu sangat menarik meski di sisi lain memiliki celah untuk disalah tafsir. Ada yang berhenti pada pemahaman ini dan langsung mengambil kesimpulan keliru. Pemahaman tentang otonomi ciptaan dan tidak ada kaitan lagi dengan ‘Sang Pencipta’ membuat orang merasa tidak perlu beragama lagi dan menjadi atheis.
Cara pandang seperti ini perlu dijernihkan. Otonomi ciptaan justru menggambarkan begitu kasih tak bertepi dari Sang Pencipta. Ia tidak egois seperti manusia pada umumnya yang selalu menjaga agar ciptaanNya tetap berada di bawah kontrolNya. Ia justru memberikan otonomi sekaligus memberikan tanggung jawab pada manusisa untuk mengaturnya secara bijaksana.
Di sinilah jawabannya. Adanya bencana alam misalnya tidak bisa dipisahkan dari perbuatan manusia terhadap alam. Tentu perbuatan itu tidak bisa dilihat secara langsung tetapi kerap menjadi akumulasi selama ratusan ribu malah jutaan tahun sebelumnya.
Memang korelasi antara tindakan manusia dan alam dalam arti tertentu (seperti banjir bandang akibat deforestasi atau penggundulan hutan), mudah dipahami. Pada kasus lain seperti gunung meletus, tidak mudah dicari korelasi untuk menjelaskan akumulasi tekanan dalam kawah atau ruang magma, lelehan batuan pada kerak bumi, atau akumulasi penumpukan gas yang menjadi sebab meletusnya gunung. Yang mungkin bahwa proses letusnya gunung bisa dicari penjelasannya sebagai konsekuensi sebuah ciptaan yang ada dalam ruang dan waktu. Ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk mati dan menjadi tidak ada.






