Kerinduan sekadar bersua harus diurung karena tertutup kesempatan jenguk. Lalu sesaat setelah beliau mengembuskan nafas terakhir pun, tetap tertutup kesempatam untuk melayat karena langsung diurus Satgas Covid -19, sesuai standar protokol kesehatan.
Kae Felix Pullu, kita lebih sebulan tak jumpa. Masih ingat kebersamaan terakhir di rumah saya di Penfui, Sabtu (12/12/2020). Kita makan malam bersama menyelingi diskusi politik. Beberapa hari setelahnya kae dengan agenda sendiri. Kabarnya ke Jakarta urusan Organda. Sekembali dari Jakarta, kae ke Malaka untuk urusan keluarga. Info susulannya sekembali dari Malaka, kae jalani isolasi di RS Siloam karena terpapar virus Covid-19, hingga mengembuskan nafas terakhir.
Bagi saya – dan mungkin banyak yunior yang mengenal – kae adalah sosok perekat setelah meretas sekat politik. Juga motivator ulung yang lincah lentur dan tak kenal marah. Kae adalah tokoh politisi yang bertalenta hangat dalam berinteraksi.
Sebagai politisi senior/sesepuh Golkar NTT, penggalan jejak politik Felix Pullu dapat ditelusuri melalui profilnya, yang antara lain terpublikasikan melalui buku: “Jejak Karya Golkar NTT” (2018).
Melalui buku itu antara lain dilukiskan, Felix Pullu sejatinya sudah pensiun dari kursi legisatif DPRD NTT sejak tahun 1990-an. Namun kiprahnya sebagai politisi ternyata tak pernah pudar. Salah satu buktinya, Felix Pullu untuk jangka waktu lama mendapat kepercayaan sebagai Ketua Dewan Penasihat/Ketua Dewan Pertimbangan Golkar NTT sejak kepemimpinan IA Medah hingga kepemimpinan Melki Laka Lena, sebagai Ketua DPD Golkar NTT, sekarang. Atau dengan kata lain, kiprah politik Felix Pullu terus menempel hingga tutup usia.







