Semalam di Pantai Kota Raja – Ende, Sekadar Melawan Lupa

Kons Beo8

Tapi, kami anak-anak tak peduli. ‘Maen saban hari di area itu, ya jalan terus.’ Oh iya, ada teman-teman saya bernama Hasan, Amir, Idris, Faisal, dan seterusnya. Kawan-kawan sebaya ini muslim.  “Dorang ini tahu juga kalo kami ini Katolik-Kristen.”  Semuanya gembira untuk ‘mandi laut, tantang ombak dan bersenang apa saja di kawasan Pantai Raja itu.

Namanya saja anak-anak. Tentu, tak ada pikiran aneh-aneh yang diasapi oleh sentimen agama atau kepentingan ‘politik sektarian’  ini dan itu. Intinya, kami bersenang-senang dan ceriah bersama! Tentu dalam alam Kasih Persaudaraan. Jadi, himbauan dari moto episkopal Bapa Uskup Budi, ‘Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis‘  (Peliharalah Kasih Persaudaraan) wah itu yang sudah kami pelihara sejak waktu-waktu lalu di kawasan Pantai Kota Raja. Kami telah belajar lewati sekat-sekat dan batas-batas penghalang yang mengancam dan bisa jadi modal pembunuh Kasih Persaudaraan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Akhirnya…

Bagaimana pun area malam Pantai Kota Raja mesti ditinggalkan. Saya mesti segera pulang ke puncak Jalan Pahlawan. Oh iya, lewati kawasan Lapangan Pancasila, di balik tembok tribun, masih sempat terlihat cahaya redup kurang berdaya dari dua lampu pelita. Dua ine bertahan demi jualan mereka seadanya. Sedemikian kecil meja dengan jajakan sedikit biskuit, kripik, aqua, isbonbon, dan kacang goreng andalan. “Wah, mo dapat laku berapa juga dengan volume jualan seperti itu?”

Tapi, saat diajak ngobrol-ngobrol? Segera terpancar sukacita dan harapan. Mereka sepertinya tak peduli dengan makin gemerlapnya kawasan Pantai Kota Raja atau suasana di seputaran Lapangan Pancasila. Pelita bernyala dan kacang goreng tetap menantang zaman yang berubah namun penuh tanya.

Pos terkait