Maka, benar-benar tak ada lagi ‘dialog, dengar pendapat sehat atau diskusi tajam dan segar.’ Tak ada! Panggung tak lebih bagai arena raungan suara dan bahkan tinju pun bisa dikepalkan. Penuh gertak, tekanan dan ancaman. Kata-kata bersuara seperti tak punya nilai di panggung. Apalagi mesti bertakhta dalam hati ‘para petarung.’ Namun begitu, intinya kata-kata itu mesti ditempiaskan menjangkau publik, pendengar, pemirsa. Semua, publik, rakyat mesti maklum dan amini bahwa sungguh suara mereka tengah diperjuangkan. Iya, di panggung itu!
Maka, jadinya? Suara panggung tak butuh standar rasional, logis, real dan faktual. Cukuplah untuk tebalkan lapisan emosi kebencian dan rasa permusuhan publik. Itulah intensinya. Sayangnya, murka dan benci yang membabi buta jadi sekian kasat mata dalam keadaban yang keropos! Etika diludahi. Kesantunan dikangkangi. Panggung benar-benar tercemar oleh muntahan dan bau busuk kata-kata. Siapa mau dan harus mendengar apa dan siapa?
Tetapi, di panggung pun kebenaran diobok-obok. Ternyata, hanya ‘jago omong dan bernada tinggi’ itu tak cukup. Sebab kebenaran itu punya ‘teritori dan marwahnya sendiri. Ia kokoh teguh di dalam dirinya sendiri.’ Orang-orang panggung pasti pada maklum pada diktum ‘contra factum argumentum non valet.’ Lawan kenyataan, argumen apapun pasti rapuh dan remuk. Tak kuat!
Kebenaran itu terlalu tangguh!
Kebenaran bakal tak terlalu peduli ‘pada gelar akademik setinggi apapun, pada simpul kajian yang diuarkan ilmiah, atau pada survey dan data-data yang digembar-gembor scientifik. Bahkan kebenaran tak mau digertak sekalipun dengan membawa-bawa nama Allah dan azabNya. Kebenaran hanya menanti semuanya pada muaranya yang pasti bahwa “Bila YA, katakanlah Ya; Bila TIDAK, katakanlah Tidak! Apa yang selebihnya berasal dari si jahat.”







