Bagaimanapun, hegemoni panggung penuh dagelan seperti itu mesti ditamatkan sesegeranya. Negeri ini tak sabaran lagi akan wibawanya panggung yang sebenarnya. Yang tak bisa lagi diobok-obok sesukanya. Panggung yang menuntut bukti, data, serta saksi-saksi yang bukan saksi hantu jadi-jadian.
Iya, semua pada haus akan panggung yang punya legal standing, yang kokoh atas nama kebenaran dan kejujuran! Panggung dengan kursi dan palu terhormat seperti itu mesti dinahkodai oleh insan-insan berkelas dalam bidangnya. Dan terlebih mereka itu punya integritas diri dengan ‘tidak bermuka dua-berwajah kembar, atau apalagi bermuka belakang.’
Iya, dunia ini, negeri ini, benar-benar telah jadi ‘panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah.’ Kita semua hanya berharap semoga peran-peran wajar jadi nyata. Semakin jauh dan terus menjauh dari ‘peran berpura-pura.’
Ah, mesti kah kita tetap bertahan pada panggung sandiwara?
Hanya Tuhan yang tahu pasti. Masalahnya kita-kita ini punya cerita yang mudah berubah-ubah.
Di skala mikro kedirian kita sendiri adalah panggung sandiwara dalam keseharian.
Wah, ada-ada saja…..
Verbo Dei Amorem Spiranti
* Penulis rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro, Roma







