Dan lihatlah, di atas panggung, kebenaran itu coba diserang dan terus saja dalam usaha ‘pembunuhan.’ Di atas panggung sepertinya kebenaran tetap saja dikeroyok dan hendak ditaklukkan dalam ujaran kebencian, fitnah, pencemaran, penyesatan, pembungkaman, ketidakjujuran, serta oleh ragam manipulasi sana-sini. Bahkan sampai hati mesti memakai Nama Allah lagi. Keterlaluan!
Di titik lain, panggung yang ramai, penuh tegang dan intrik itu, tak bisa tidak, sudah dicurigai sebagai satu orkestrasi demi variasi kepentingan. Panggung adalah sebuah teater kepentingan yang tentu ‘makan ongkos dan menuntut biaya.’ Sebuah harga mahal yang mesti dibayar dan pada gilirannya harus berbuah pada intensi kepentingan tertentu. Itu teramat jelas, Bro!
Panggung sebenarnya adalah area pekikan keras namun samar suara dalam ideologi, agama, politik, sosial, ekonomi-bisnis. Namun, biar begitu, dapat tertangkap jelas oleh akal yang benderang serta nurani yang (masih) bening. Namun, panggung, bagi seorang badut, tetaplah jadi arena dikeluarkannya segala isi kepala yang contra factum dan irasional, penuh kibulan dan sesat, dengan cengingiran yang tak lucu. Toh, yang terpenting, intinya itu, cuan tetap tergaransi serta perut tak boleh merana oleh keroncongan yang akut.
Bukan kah dari ketegangan di atas panggung yang diracik itu, sekian banyak lahan tidur dan kering segera jadi basah. Dan hasilkan panen mamon yang berkelimpahan? Panggung tak imun dari bisnis kata-kata serta banyak aksi yang menggelikan dan mual untuk ditatap. Walau begitu, katanya, panggung tetap jadi arena potensial dan punya peluang nyata untuk tebalkan pundi-pundi dan gendutkan rekening. Di balik layar panggung ada sutradara piawai yang sebenarnya dikendali dan dikemudi pula oleh bohir yang tak sembarangan orang. Panggung – Bisnis – Politik itulah rangkaian krusial agar cita-cita dan kepentingan dapat tercapai.







