Kumpulan umat Allah tak ditentukan semata oleh selebrasi iman yang meriah! Kita tak cuma berfokus pada alam kontemplatif teduh yang menyentuh kalbu. Gereja pun tak hanya disapa oleh kotbah atau renungan saleh yang sekian afektif. Oleh kata-kata yang menyentak sebatas daya pikat penuh kagum. Kiranya kini, kata si bijak, “Mesti terbuka kesempatan yang lebih luas untuk menghidupkan kotbah ketimbang mengkotbahkan kehidupan.” Kita pasti tidak ‘berminat’ pada Pembaptisan yang hanya menggerakkan kita sebatas hidup kita (Gereja) sendiri. Gereja tak pernah boleh terpasung hanya pada segala gerak keberadaannya sendiri. Pembaptisan adalah panggilan kepada dunia semesta.
Dunia telah terpenjara dan terluka oleh sekian banyak pemisahan. Terseret oleh arus individualisme, oleh perjuangan kelompok-kelompok hanya demi kepentingan sendiri, pada titiknya, menjadikan dunia semakin tercabik-cabik dan porak-poranda. Dunia merindukan dunia yang kaya dan subur akan peradaban nilai-nilai. Bangsa-bangsa mendambakan alam hidup bersama dalam kesejukan dan damai. Kita nyaris tak mengalami dunia yang senyap dari apa yang dilukiskan Rasul Paulus sebagai dunia yang tergurita oleh hidup menurut daging. Gereja komunitas Galatia diingatkannya, “Perbuatan daging telah nyata: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora..” (Gal 5:19-21). Tetapi, dunia dan Gereja tetap menaruh harapan akan keadaan yang menjanjikan!







