KUPANG kabarntt.id—Pius Lustrilanang, anggota Badan Pemerisak Keuangan (BPK) RI mengajak sejumlah wartawan di Kupang, Senin (24/10/2022), mendiskusikan bukunya berjudul ALDERA, Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999.
Acara yang dikemas santai bertajuk Ngopi-ngobrl sore di Hotel Aston Kupang itu menghadirkan sejumlah wartawan yang diundang terbatas.
Buku ini ditulis oleh Teddy Wibisana, Nanang Pujalaksana dan Rahadi T.Wiratama serta Marlin Dinamikanto sebagai editor.
Buku ALDERA ini merekam salah satu etape perlawanan terhadap rezim otoritarianisme Orde Baru pada awal tahun 1990-an hingga kejatuhan Soeharto. Aliansi Demokrat Rakyat (ALDERA) memang saat itu memainkan peranan penting dalam interaksi perlawanan atas rezim.
“Gerakan mahasiswa yang berujung dengan reformasi punya sejarah panjang dengan semangat untuk memperjuangkan kebebasan dan kesejahteraan, dan hari ini kita nikmati perjuangan itu,” kata Pius membuka diskusi buku tersebut.
Politisi Gerindra itu menggambarkan bagaimana dirinya dan teman-temannya berjuang melawan rezim Seoharto saat itu, dan kemudian diculik, dianiaya. Beberapa teman serperjuangannya juga diculik. Ada yang dibebaskan dan ada juga yang hilang sampai saat ini.
“Kami perjuangkan agar rezim harus digulingkan. Memang banyak sesama aktivis juga ada yang dibunuh waktu itu. Harganya tidak murah, sangat mahal. Saya waktu itu manfaatkan jaringan yang ada sehingga saya mendapatkan keadilan yang sepantasnya. Dan benar rezim itu kami gulingkan dan jatuh, maka bangkitlah reformasi,” ungkap mantan anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan NTT 1 (Flores, Lembata, Alor) itu.







