Ketika namanya disebut sebagai salah satu bakal calon Wakil Gubernur NTT, Hugo meresponnya dengan dewasa. Dewasa sebagai politisi senior.
“Saya berpikir dan merespon positif saja. Sebagai kader partai siap. Ibarat pemain sepak bola kalau sudah pakai baju klub, kita harus siap. Mau dipasang pelatih atau tidak dipasang, kita harus siap,” tegasnya.
Hugo merasa enteng dan senang saja dijaring sebagai salah satu bakal calon Wagub NTT. “Saya senang saja. Kita tidak boleh anggap sebagai beban. Enjoy saja. Ini kan baru penjaringan. Kita harus hormati partai. Wujud partai itu kan kadernya. Partai itu abstrak, kader itu wujudnya,” katanya.
Menurut Hugo, penjaringan dini yang dilakukan Golkar merupakan sesuatu yang sangat bagus dan luar biasa.
“Ini tradisi baru di Golkar. Sebuah terobosan baru untuk menyiapkan mesin partai agar selalu ready, sehingga pada saatnya nanti kita betul-betul memulai pertandingan. Menurut saya bagus ini. Setiap orang harus dilibatkan untuk mencoba menempati posisi-posisi itu, apakah nanti dia cocok atau tidak tergantung situasi pada saat permainan sesungguhnya. Setiap kader harus siap. Siap untuk dipasang, siap juga untuk tidak dipasang. Jangan kecewa,” kata Hugo.
Sikap Hugo seperti ini menunjukkan kematangannya sebagai kader partai. Sebelum bergabung dengan Golkar tahun 1982, Hugo adalah anggota DPRD Sumba Barat dari pintu PDI (Partai Demokrasi Indonesia). “Dulu saya ke PDI karena tidak ada yang berani ke sana,” akunya.
Sekitar 40 tahun berumah di bawah naungan pohon beringin sejak 1982, Hugo menuai banyak hikmah. Asam garam bergabung di Golkar sudah direguknya.







