“Di Golkar ada suka dan dukanya. Saya bergabung ke Golkar waktu Golkar lagi kuat-kuatnya, Golkar baru muncul. Momentum itu saya coba pakai untuk memberi warna lain. Begitulah demokrasi. Di PDI seringkali pendapat kita tidak dipakai. Karena yang dipakai itu adalah kesimpulan rapat, bukan pendapat perorangan. Saya merasa lima tahun (di PDI) kok percuma juga. Makanya saya coba masuk di dalam (Golkar) dan memberi gagasan. Siapa tahu di dalam ada energi baru yang bisa mempengaruhi pertumbuhan partai. Akhirnya saya masuk Golkar,” tutur wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Sumba ini.
Senang bergabung di Golkar? “Ya, saya merasa membuat sesuatu untuk Golkar juga dan diberi kesempatan. Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya bahwa tidak bisa berpendapat, ditekan, dipotong. Tidak juga. Justru gagasan kita disampaikan, diimprovisasi sehingga ada perubahan,” jelasnya.
Lama di Dewan, bagaimana melihat kemitraan Dewan dan pemerintah?
“Saya bertitik tolak dari diri saya sendiri. Saya dari dulu itu selalu menjalankan tugas sebagai wakil rakyat. Obyektif. Tetapi cara menyampaikan pendapat, saya atur dengan baik sehingga tidak menyinggung perasaan orang. Tidak ada kesan bahwa kita sepelekan orang, kita menantang orang. Sebaliknya saya ajukan argumentasi yang bagus, dengan acuan yang jelas, untuk bonum commune, untuk kebaikan bersama. Itu patokan utama saya,” kisahnya.
Sebagai wakil rakyat, kata Hugo, dia juga banyak berterima kasih kepada pemerintah. “Dengan pemerintah kita bersahabat saja, bahkan saya berterima kasih karena ada pikiran-pikiran bagus. Saya biasa dipercayakan untuk merumuskan. Di DPRD saya jadi spesialis perumus dari dulu. Saya jalankan dengan gembira karena kita bisa padukan berbagai aspek pemikiran menurut tafsir kita,” tutur Hugo.







